Sepak Bola Mencabut Nyawa

Penulis : Alesandro

sepakbola kembali mencabut nyawa berkali-kali. Hati manusia mana yang tidak bergetar melihat stadion berlumuran darah?, Tidak ada suporter yang bersalah. Kita semua adalah korban, dari situasi yang mereka sebut “industri sepakbola”. Suporter berkaos warna apa yang terus ingin menjadi korban?.

Bagi kami suporter, klub adalah harga diri. Sebaliknya, bagi klub dan federasi, suporter adalah “harga mati”. Tarif masuk stadion, bisnis hak siar, sponsor, dan lainnya mampu menjelaskan berapa keuntungan yang didapat mereka. Bagaimana keuntungan itu kembali lagi ke suporter, Nyawakah?.

Bagi kami suporter, sepakbola adalah tradisi. Tentang sebuah emosi kecintaan. Rasa jatuh berkali-kali yang nikmat. Ada teriakan, pujian, umpatan dan nyanyian. Cinta kita tidak buta. Kesadaran karena tanah kelahiran, tempat kita dibesarkan, atau warisan keluarga yang mesti kita teruskan. Semua chants yang kami nyanyikan selalu bernafas “bagimu jiwa raga kami” untuk klub. Tapi, apalah salah satu di antara kita mati dengan cara tidak layak? Karena kebencian, umpatan dan tanpa doa.

The Jak Mania berduka. Ayo sudahi. Jangan berangkat dari dendam. Berangkatlah bersama solidaritas dengan mengutuk dan menuntut. Kita mengutuk aksi kekerasan. Kita menuntut hukum untuk adil dan berpihak pada korban. Kita harus membentuk aksi-aksi solidaritas untuk menuntut revolusi atas sistem industri sepakbola. Federasi mesti bertanggung jawab atas ini semua. Revolusi PSSI! Sekarang atau tidak sama sekali!

Tinggalkan Balasan