Stop Menyalahkan dan Membela Diri, Mari Pikirkan Masa Depan

Oleh: Ghazi Luthfi
Bidang Hukum The Jakmania

 

Saya hanya bisa tertegun ketika menyaksikan persija kebobolan gol ketiga di masa injury time babak kedua dalam laga paling panas di Indonesia, Persib vs Persija pada hari minggu tanggal 23 September 2018 kemarin. Hingga beberapa saat kemudian masuk chat dalam whatsapp group saya yang mengirim rekaman video penganiayaan seseorang yang sudah bersimbah darah oleh sekelompok orang berbaju biru. Seorang teman saya dari group itu meminta konfirmasi apakah betul orang yang dianiaya dalam video itu merupakan anggota The Jakmania.

Saya menunjukan rekaman video tersebut kepada Bung Ferry yang kebetulan nonton pertandingan tersebut bersama dengan saya. Bung Ferry mengatakan untuk tetap tenang dan menunggu kepastian mengenai video tersebut, beberapa menit kemudian video tersebut viral di group lain dan instagram serta muncul konfirmasi bahwa benar korban penganiayaan tersebut adalah Haringga Sirla, seorang The Jakmania dan pada saat itu sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Saya ingat betul raut wajah Bung Ferry yang awalnya terlihat kecewa akibat kekalahan Persija berubah menjadi kosong ketika mengetahui bahwa korban penganiayaan tersebut adalah anggota The Jakmania. Rasanya seolah tidak ada lagi artinya hasil pertandingan ini setelah mengetahui ada anggota The Jakmania yang dianiaya diluar batas peri kemanusiaan. Saya tidak akan menuliskan secara detail apa yang menjadi acuan saya menilai penganiayaan tersebut luar biasa biadab karena saya rasa semua orang bisa menilai apa hal yang tidak pantas yang dilakukan massa tersebut terhadap tubuh korban.

Hal selanjutnya yang kami lakukan adalah melakukan tindakan cepat, malam itu juga saya membuat draft surat kepada Kapolrestabes Bandung untuk dapat mengusut tuntas kasus ini, Bung Ferry pun segera meluncur ke Bandung untuk mengurus jenazah korban dan menyerahkan surat tersebut, sedangkan Bang Diky, Sekretaris Umum The Jakmania segera berkoordinasi dengan pengurus lain untuk mengamankan kondisi di Jakarta.

Kekerasan ini menjadi tragedi beruntun dalam laga Persib-Persija setelah sebelumnya memakan korban jiwa yaitu Riko, seorang Bobotoh yang diamuk massa di GBLA pada tahun 2017. Dua musim berturut-turut nyawa melayang di GBLA pada pertandingan Persib-Persija, apa yang salah dari semua ini?

Saya sendiripun pernah mengalami kekerasan dalam persepakbolaan ketika masih berkuliah di Bandung, sekitar tahun 2013 saya dan kawan-kawan diserang di Hotel Topas Pasteur ketika sedang mengunjungi Persija yang akan bertanding esok harinya. Tapi pada saat itu pihak keamanan hotel dan polisi sigap hingga massa dari luar hotel tidak dapat menerobos masuk, sehingga kami aman didalam hotel. Namun dalam kasus Haringga, kemana pihak pengamanan?

Sangat disayangkan jika melihat komunikasi panitia pelaksana (panpel) dengan keamanan bisa berjalan sangat lambat, hingga Haringga harus menerima penyiksaan-penyiksaan terhadap dirinya tanpa bisa tertolong. Tidak mungkin hal ini terjadi tanpa bisa dicegah, kemarahan Bobotoh seharusnya sudah bisa diprediksi mengingat pertandingan ini terbukti merupakan partai terpanas di Indonesia dan banyaknya Bobotoh yang hadir melebihi jumlah kapasitas stadion.

Saya tidak menganggap koordinasi di Persija dan The Jakmania lebih baik daripada apa yang terjadi di Bandung kemarin, tapi ketiadaan penjagaan terhadap lokasi tempat meninggalnya Haringga merupakan sebuah kelalaian yang fatal. Belum lagi jika melihat jumlah massa yang hadir jauh melebihi kapasitas stadion, jelas hal tersebut membuat Bobotoh yang tidak kebagian tiket menjadi frustasi dan melampiaskannya dalam bentuk lain, termasuk sweeping ataupun melakukan kekerasan. Kemarahan massa ini yang saya ketahui sangat diantisipasi oleh panpel Persija dalam pertandingan Persija-Persib di stadion PTIK sebelumnya yang mana kapasitas stadion PTIK yang hanya sekitar 1500 dan sangat tidak memungkinkan untuk menampung supporter Persija, sehingga Persija dan The Jakmania menyebar titik nonton bareng untuk meredam frustasi dan memecah titik kumpul massa.

Lebih lanjut, saya sangat menyayangkan statement manager Persib, Bapak Haji Umuh Muchtar, yang dalam beberapa media menyatakan bahwa pelaku bukan Bobotoh, serta menolak sanksi terhadap Persib, sedikit banyak, kinerja panpel persib dalam dua tahun terakhir patut dipertanyakan karena terdapat dua nyawa yang melayang, lalu apakah menurut Bapak Umuh panpel Persib bukanlah merupakan bagian dari Persib?

Dalam hal ini sepatutnya Bapak Umuh bisa lapang dada dalam mengakui kelalaian panpel Persib, ketimbang memberikan sanggahan-sanggahan terhadap pertanggung jawaban atas kasus ini, akan lebih baik apabila Bapak Umuh bisa menunjukan rasa simpatinya secara personal pada keluarga korban.

Selanjutnya, alangkah baiknya apabila perwakilan The Jakmania dan Bobotoh dapat difasilitasi oleh para stakeholder untuk dapat duduk bersama tanpa intervensi pihak manapun untuk dapat menghasilkan aksi-aksi nyata yang dapat mencairkan permusuhan ini. Karena saya yakin para supporterlah yang paling mengetahui akar permasalahan dan mampu menelurkan solusi yang paling dapat diterima oleh kedua kubu. Bung Ferry dan Kang Heru Joko tentunya sudah berupaya maksimal untuk mengkampanyekan perdamaian, namun pasti akan sangat sulit apabila dilakukan hanya oleh dua orang.

Mungkin solusi untuk mengumpulkan perwakilan dari kedua kubu dalam sebuah forum think tank ini dapat menjadi perpanjangan tangan Bung Ferry dan Kang Heru Joko yang sudah sejak lama mengupayakan perdamaian dan menghasilkan aksi-aksi nyata untuk meredakan permusuhan dan meluluhkan hati anggota masing-masing yang masih belum dapat menerima perdamaian. Bukan hanya menghasilkan ikrar damai semu seperti yang selama ini terjadi karena intervensi stakeholder yang menganggap dirinya mengetahui dan mampu menyelesaikan masalah antar supporter ini.

2 thoughts on “Stop Menyalahkan dan Membela Diri, Mari Pikirkan Masa Depan

  1. #StopMenyalahkanDanMembelaDiri
    #StopMenyanyikanLaguRasis
    #StopPerselisihan
    #StopAnarkis
    #TheJakmaniaKorwilLebakBulus
    🙏

Tinggalkan Balasan