Jangan Hancurkan Persija Kami

Penulis : Ghazi Luthfi

Bidang Hukum The Jakmania 2017-2020

Saya masih ingat tahun 2015 ketika saya datang menghadiri acara keluarga, saya datang dengan menggunakan kaos yang menunjukan identitas sebagai seorang The Jakmania. Komentar pertama yang saya dapatkan adalah sebuah nada sinis mengenai mengapa saya mendukung klub yang tidak punya prestasi, didukung supporter yang tidak tertib dan carut-marut.

Sekitar akhir 2018, saya datang kembali pada sebuah acara keluarga, kali ini seorang keponakan saya mengatakan ingin diajak menonton pertandingan Persija ke stadion, sebuah bias dengan komentar yang saya terima di tahun 2015. Apa saya senang dengan kondisi sekarang? Tentu saja! Saya sangat bahagia melihat prestasi Persija tahun 2018 kemarin.

Hingga akhirnya badai kembali menghantam kita, tuduhan settingan dan prahara manajemen tim kembali menghampiri Persija. Saya sadar betul tidak ada yang abadi, tapi apa iya kebahagiaan ini hanya berjalan sesingkat ini? Saya masih belum rela.

Isu tuduhan settingan biarlah dijawab oleh proses hukum yang sedang berjalan, jika betul terbukti Persija melakukan pengaturan skor, saya akan sangat ikhlas agar Persija menyerahkan kembali pialanya. Namun jika tidak, saya akan sangat menunggu permintaan maaf dari orang-orang yang menuduh.

Namun dibalik isu yang dikembangkan tersebut, saya melihat Persija sudah melakukan seluruh upaya terbaiknya, motivasi bagus dari pemain, kondisi keuangan stabil sehingga tidak mempengaruhi performa di lapangan, pengelolaan aset yang cukup baik, ataupun panpel yang lumayan responsif hingga tidak terlalu banyak partai kandang diluar jabodetabek. Saya akan sangat sedih apabila saya harus kembali merasakan apa yang saya alami dulu, Persija kembali dikelola secara buruk.

Bukan saya tidak siap akan badai, saya yakin pelaut yang hebat tidak dihasilkan di laut yang tenang, tapi apakah pelaut yang hebat ingin terus menerus berada di lautan badai? Pelaut hebat pun ingin berada di samudra cerah dengan sinar matahari dan bintang pada malam hari. Saya tidak akan berhenti mendukung Persija walaupun Persija ada pada posisi terbawahnya, namun saya sadar betul bahwa saya ingin Persija selalu ada pada top performancenya.

Setelah terkuaknya berita bahwa Gede Widiade dkk diganti dari jajaran manajemen Persija dan melihat penggantinya, saya menarik nafas panjang dan mencium angin badai kembali berhembus kearah kapal Persija. Penggantinya adalah orang-orang yang “sudah terbukti dan teruji” mengurus Persija, mereka orang-orang “hebat” yang telah mengajarkan saya bagaimana caranya mencintai klub disaat terburuknya.

Saya tidak peduli dengan Gede Widiade, saya bukan loyalis siapa-siapa, bahkan saya terbukti tidak loyal pada orang yang menggaji saya, apalagi pada seorang Gede Widiade yang tidak ada hubungan darah ataupun pekerjaan dengan saya. Tapi saya seorang manusia yang punya akal sehat, saya masih bisa berfikir dan membandingkan Gede Widiade dkk dengan segala pencapaiannya dengan sekelompok orang yang pernah memimpin Persija dan menghasilkan dark age untuk Persija. Saya tidak perlu menggunakan statistik atau data keuangan, cukup gunakan logika sederhana maka nyata-nyata saya bisa melihat ketimpangannya.

Lalu sebagai seorang supporter apakah saya harus diam saja? Menutup mata dengan keadaan ini? Memang secara korporasi saya tidak punya kuasa apa-apa, saya bukan pemegang saham yang bisa mengangkat dan memberhentikan direksi, saya bukan komisaris yang bisa mengawasi kinerja jajaran manajemen. Tapi saya punya mulut, saya punya tangan untuk menulis tulisan ini, saya tidak akan tinggal diam jika Persija saya dibawa menuju jurang hitam yang sudah pernah kita tinggalkan.

Siapa yang mengambil keputusan? Mengapa majority shareholder Persija bisa sebegitu butanya melihat gambaran sederhana yang bisa saya lihat ini? Apa tujuan anda wahai bapak pemegang saham mayoritas? Anda yang punya kuasa memberhentikan dan mengangkat Direksi melalui RUPS. Apakah saya salah jika saya melihat ada sebuah kesengajaan untuk kembali mencelakakan klub yang luar biasa saya sayangi ini? Bukannya memberikan benefit, justru anda membawa kotoran anda ditempat lain hingga Persija ikut-ikutan bau kotoran. Seolah-olah kerja keras tim dan support tanpa batas The Jakmania tanpa henti musim lalu jadi tidak berarti akibat bau kotoran anda.

Saya tidak peduli sama sekali mengenai benefit yang anda terima akibat dari menguasai kepemilikan Persija, namun jika tujuan anda bukan membuat Persija berjaya, silahkan jual saham anda sekarang dan serahkan pada orang yang punya visi! Atau saya akan terus berteriak mengganggu kuping anda.

Love Persija Hate Shareholder!


Tinggalkan Balasan