KOLEV BOLEH BERHARAP, KEDALAMAN SQUAD YANG MENENTUKAN

Di level sepakbola antar klub Asia di isi oleh para jawara setiap negara. Klub kebanggaan saya Persija Jakarta akhirnya kembali mencicipi kasta teratas klub sepakbola di Asia tersebut. Mengawali petualangan di Champions League Asia melalui babak Preliminary Round 1 menghadapi Home United (Singapura), Persija mampu membalas kekalahan tahun 2018 dengan skor 3-1 walau harus bermain di kandang Home United.

Memasuki Preliminary Round 2 Champions League Asia, Persija dihadapkan oleh wakil Australia, Newcastle Jets. Klub papan tengah A-League (Liga Sepakbola Australia) tersebut menjadi lawan yang tangguh menuju ke babak Fase Grup yang musim lalu pun wakil Indonesia, Bali United gagal mencapainya.

Menggunakan formasi 1-4-3-3 pelatih asal Bulgaria, Ivan Kolev mengawali pertandingan dengan menyimpan beberapa pemain reguler seperti Novri Setiawan yang pos nya di isi oleh pemain pinjaman Beto Goncalves. Yan Nasadit pun menemani Sandi Sute sebagai gelandang pekerja dan Ramdani Lestaluhu sebagai pengatur serangan di awal babak pertama.

Jalannya babak pertama memang lebih didominasi oleh Newcastle Jets dalam membangun set play penyerangan. Beberapa kali peluang melalui gelandang serang Ronald Vargas sering mentah di pertahanan Persija yang digalang oleh Maman Abdurrahman dan Ryuji Utomo. Ditambah lagi aksi gemilang sang kapten, Andritany di mistar gawang Persija setidaknya mementahkan 10 tembakan ke gawang milik Newcastle Jets sepanjang pertandingan. Persija sesekali menyerang melalui kecepatan Riko Simanjuntak yang beberapa kali menyayat pertahanan Newcastle Jets yang digalang oleh mantan pemain nasional Australia Nikolai Topor. Skor kacamata menghiasi papan skor disepanjang babak pertama.

Memulai babak kedua, anak asuh Ernie Merrick tersebut tancap gas langsung membombardir Persja, hasil di menit 49 sebuah kesalahan barisan pertahanan Persija dimanfaatkan oleh Donovan untuk mengirim umpan kepada Ronald Vargas yang dating dari tengah dan dengan sedikit sentuhan menceploskan bola pelan ke gawang Andritany.

Set piece yang menjadi senjata mematikan Persija sejak musim lalu kembali berbuah melalui tendangan penjuru melengkung milik Rico Simanjuntak yang mengirim umpan ke kepala Ramdani Lestaluhu sukses menyamakan kedudukan di menit 71.  Hingga peluit babak kedua dibunyikan skor imbang 1-1 dan harus diteruskan ke babak perpanjangan waktu.

Persija sebetulnya memiliki peluang terbaik disaat babak perpanjangan waktu berlangsung 4 menit saat Riko mengirim umpan matang ke Novri Setiawan, namun sayang Novri gagal membuat Persija memimpin karena bola tidak mengarah ke gawang. Andritany yang tampil ciamik sepanjang laga kembali menggagalkan peluang Donovan yang sudah berhadapan satu lawan satu dimenit 10 babak perpanjangan waktu.

Petaka dating saat antisipasi tendangan pojok Newcastle Jets justru berbuah gol melalui kaki sang kapten Nigel Boogard yang tidak terkawal. Dipenghujung laga kembali melalui set piece tendangan bebas, pemain pengganti Matthew Ridenton sukses memperdaya Andritany dan mengunci kemenangan wakil Australia tersebut.

Permainan Persija ditangan Ivan Kolev sangat berbeda dengan Persija ala Teco. Kolev bermain lebih terbuka walau dikandang lawan sekalipun hal itu bisa terlihat dari jumlah ball possesion Persija dikandang Newcastle Jets yang mencapai 47 %.  Jebakan offside pun menjadi senjata Persija saat ini, Ryuji dan Maman terbukti mampu mengkoordinir pertahanan Persija cukup rapi. Sayangnya kedalaman skuad Persija di Champions League Asia terbilang jauh dari tim yang siap menghadapai kompetisi seketat kasta tertinggi antar klub Asia tersebut.

Gw sendiri tidak tertarik membahas soal status pemain yang tidak bisa terdaftar karena masalah miskomunikasi oleh PSSI. Membandingkan Persija era Teco dengan era Kolev saat ini lebih menarik. Teco yang jauh lebih pragmatis mengincar kemenangan dengan bermain lebih bertahan saat unggul. Sedangkan Kolev lebih senang menang dengan cara (lebih) menyerang.

Skuad warisan Teco menunjang Kolev untuk bermain sesuai keinginan pelatih asal Bulgaria tersebut. Namun sayangnya kedalaman skuad yang dimiliki saat berlaga di Champions League Asia tidak cukup mengakomodir strategi Kolev. Butuh banyak pemain yang mampu menguasai bola untuk mengkonversi keinginan Kolev dilapangan, dan itu tidak dimiliki oleh skuad Persija yang berlaga di Champions League Asia.

Namun gw percaya ditangan Kolev, Persija bisa lebih baik dari cara bermain era Teco yang cenderung membosankan. Tapi gw selalu mengaggumi Teco karena saat dia membawa Persija juara sebetulnya secara materi pemain Teco tidak diberikan “pemain mewah” seperti klub papan atas Indonesia lainnya.

Biodata penulis :

Doni Zola – mantan Korwil Karet Tengsin

Beliau pernah menjadi pelatih futsal Persija


Tinggalkan Balasan