THANK YOU KOLEV

Setelah rentetan hasil negatif di berbagai kompetisi yang dijalani Persija pada tahun ini, akhirnya pelatih kepala Persija, Ivan Kolev resmi mengundurkan diri dari posisinya per 3 Juni 2019.

Persija di bawah komando Kolev melalui 21 pertandingan pada 5 kompetisi yang berbeda, dengan rekor delapan kali menang, delapan kali kalah, dan lima kali seri, serta gagal melaju ke fase gugur AFC Cup, terjerembab di zona degradasi Liga 1, kalah di kandang dari Kalteng Putra pada perempat final Piala Presiden, dan lolos ke semifinal Piala Indonesia setelah mengalahkan Bali United.

Kalau mau dikatakan buruk, ya sangat buruk kondisi Persija akhir-akhir ini. Tapi, jika ingin fair, kondisi Persija saat ini bukan sepenuhnya salah Kolev. Iya betul, sebagian besar merupakan tanggung jawab Kolev karena beliau merupkan pelatih kepala. Tapi tidak seluruhnya salah beliau,
Hilangnya Simic yang tersangkut kasus saat bertandang ke Australia menjadi salah satu penyebab utamanya. Skema permainan Persija yang sudah disiapkan untuk mengakomodir potensi Simic, tiba-tiba harus dirubah di tengah jalan. Pemain yang menggantikannya pun belum bisa menggantikan peran Simic dengan optimal.

Cedera berkepanjangan Rezaldi sedikit banyak juga mempengaruhi. Agresivitas sisi kiri Persija berkurang semenjak absennya Rezaldi Bule karena cedera. Penggantinya, walau pun secara atribut bertahan cukup baik, tetap saja tidak sesuai dengan skema permainan Persija yang menuntut bek-bek sayap untuk tampil agresif membantu penyerangan.
Sebenarnya, dari sebelas pertama skuat juara 2018 hanya dua pemain yang benar-benar meninggalkan Persija, yaitu Jaime dan Renan.

Pengganti Renan sejauh ini tampil luar biasa, walau pada beberapa pertandingan terakhir dikritik habis-habisan karena tampil individualis. Yang jadi masalah, pengganti Jaime belum tampil seperti pendahulunya. Masalah utamanya, pengganti Jaime dan Jaime adalah dua tipe pemain yang sangat berbeda. Jaime adalah ball playing defender, sementara penggantinya adalah stopper.

Masalah di lini pertahanan belum berenti sampai di situ. Sampai saat ini, tercatat Persija hanya memiliki tiga pemain yang berposisi sebagai bek tegah murni yang berpengalaman, dan satu bek tengah murni yang sama sekali belum pernah merasakan atmosfer pertandingan professional. Dua di antara bek tengah bahkan sudah berusia di atas 33 tahun.

Yang harus diingat juga, Kolev datang di saat Persija tangah berganti pucuk kepemimpinan di jajaran manajemen, yang berakibat kebijakan transfer pemain sangat terlambat jika dibandingkan dengan tim lain. Sulitnya menggelar pertandingan di kandang juga menjadi biang keladi melempemnya performa Persija.

Kondisi sosial-politik di Ibu kota yang fluktuatif membuat Persija sangat sulit menggelar pertandingan kandang. Contoh, saat Persija melawan Ceres Negros pada lanjutan fase grup AFC Cup, sampai beberapa menit sebelum sepak mula, status pertandingan masih belum jelas bisa dilaksanakan dengan atau tanpa penonton, walau pada akhirnya bisa terselenggara dengan disaksikan penonton, ini sangat menguras mental pemain dan supporter.

Yang terbaru, Persija bahkan pada tiga pertandingan pertama Liga 1 2019 selalu memainkan laganya di kandang lawan. Hasilnya, satu poin dari tiga kali lawatan ke kandang lawan, dan terjerembab di zona degradasi. Total, dari 21 pertandingan yang telah dijalani Persija tahun ini, hanya tujuh kali Persija bisa main di depan public sendiri, itu pun yang main di Jakarta hanya tiga kali, sisanya Persija bermain di Bekasi tiga kali, dan Cikarang sekali.

Jika memang ingin menyalahkan Kolev, salahkan Kolev pada kebijakan dia untuk jarang sekali merotasi pemain yang menjadi sebelas pertama pada setiap pertandingan. Tercatat, dalam 21 pertandingan yang telah Persija jalani, hanya empat belas pemain yang dimainkan Kolev sebagai starter sebanyak sepuluh kali atau lebih. Sisanya, pemain-pemain lain rata-rata hanya diberi kesempatan menjadi starter empat sampai lima kali.

Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan alasan Kolev setiap kali mendapatkan hasil minor. Yang terbaru, saat konferensi pers sebelum melawan Bali United, Kolev mengutarakan pendapatnya yang kira-kira mengatakan bahwa Bali United mendapatkan waktu istirahat yang cukup jika dibandingkan skuat asuhannya. Lalu hal ini dipertegas lagi saat konferensi pers setelah pertandingan. Aneh bukan, Selalu beralasan pemain kelelahan tapi tetap tidak mau merotasi pemain.

Mungkin alasan Kolev tidak suka merotasi pemain adalah, dalam pengamatan Kolev, kualitas pemain cadangan masih di bawah pemain utama, dan pemain cadangan belum memiliki jam terbang yang cukup. Logikanya, kalau pemain belum memiliki jam terbang yang cukup, ya berikanlah jam terbang yang cukup pada ajang pra musim. Tapi realitanya, Kolev terus saja memainkan pemain yang itu-itu saja saat pra musim. Untuk materi pemain cadangan yang kualitasnya dinilai masih jauh dari pemain utama, tentu ini bukan salah Kolev seutuhnya. Manajemen punya andil besar dalam menyebabkan jauhnya kualitas pemain utama dan pemain cadangan.

Pada akhirnya, kita tetap harus berterima kasih kepada Kolev atas baktinya selama lebih dari lima bulan terakhir ini. Kolev seorang gentlemen, berani bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat selama ini dengan mundur dari jabatannya.

Tinggalkan Balasan