Final yang Tertunda

Hari itu, Sabtu, 27 Juli 2019, kira-kira pukul 07.00 saya tiba di Makassar. Mengawal kebanggaan, Persija Jakarta, tak lain dan tak bukan adalah tujuan utama dalam kunjungan pertama saya ke Pulau Sulawesi. Persija Jakarta yang telah mengantongi keuntungan kemenangan 1-0 di Jakarta melalui gol dramatis Ryuji Utomo akan dijamu PSM Makassar di Mattoangin pada final leg ke-2 Piala Indonesia. Partai ini jelas merupakan partai besar yang melibatkan dua tim besar era perserikatan dan dua tim terbaik di Indonesia setidaknya dalam rentang waktu dua tahun terakhir. Selain itu, psywar melalui media sosial yang sudah dilakukan suporter kedua tim bahkan jauh hari sebelum pertandingan di gelar menjadi bumbu tambahan yang seharusnya membuat kedua tim semakin bersemangat untuk memenangkan pertandingan.

Suasana di Makassar hari itu sangat “sepakbola.” Spanduk-spanduk bertuliskan “Spirit 2000” dan “Kota ini harus juara” di sudut-sudut kota Makassar mengingatkan saya pada kenangan indah di penghujung tahun 2018 ketika Persija mampu melepas dahaga gelar dengan memenangkan Liga Indonesia. Tak sedikit pula spanduk-spanduk yang sedikit bernada ancaman kepada tim tamu, namun saya tidak terlalu mengambil pusing akan hal itu. Ketua Umum sudah memberikan instruksi bahwa di mana bumi dipijak di situ langit harus dijunjung. Lagipula, saya masih bisa mewajarkan hal tersebut, mungkin oknum-oknum tersebut masih sakit hati dan terhipnotis dengan isu “settingan” yang sampai saat ini tidak dapat dibuktikan.

Singkat cerita, pada sore harinya, bis Persija yang baru saja pulang dari uji coba lapangan ditimpuk oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Kejadian tersebut mengakibatkan ofisial dan pemain Persija menderita luka. Pada akhirnya, seperti yang kita ketahui bersama, pertandingan yang seharusnya dilaksanakan di hari berikutnya terpaksa ditunda. Saya masih bisa mengingat raut wajah kecewa teman-teman Macz Man dan PSM Fans yang sudah bersiap-siap bersama kami, the Jakmania, untuk berangkat ke Mattoangin. Begitu pula dengan the Jakmania, mereka yang sudah menyeberang pulau mengorbankan biaya, tenaga, dan waktu, sudah pasti menjadi orang-orang yang paling kecewa dengan ditundanya pertandingan itu.

Sontak hujatan kepada Persija sebagai tim “putar balik” pun bermunculan di media sosial dan saya rasa saya harus mengakui bahwa Persija memang “putar balik” di pertandingan tersebut. Akan tetapi, saya tidak akan pernah setuju apabila putar balik yang dilakukan Persija disamakan dengan putar balik yang dilakukan Persebaya dan Persib pada 2005. Tim Persebaya dan Persib pada 2005 dapat dikatakan praktis tidak mendapatkan kekerasan apapun dan seharusnya tetap dapat menjalani pertandingan dalam situasi normal. Bagaimana dengan Persija 2019? Pelemparan terhadap bis Persija melukai dua orang anggota tim dan pastinya membuat mereka tidak akan maksimal atau bahkan tidak bisa ambil bagian dalam pertandingan. Dengan kerugian kehilangan 2 orang anggota tim, wajar jika Persija merasa nilai fair play telah dicederai bilamana pertandingan tetap harus dilaksanakan. Kami datang dengan 18 orang, diserang usai uji coba lapangan, tersisa hanya 16 orang, dan dicap anak papa karena tidak mau melangsungkan pertandingan? Kira-kira seperti itu gambaran singkatnya yang sampai saat ini tidak dapat saya cerna dengan akal sehat.

Beras telah menjadi nasi dan nasi telah menjadi bubur. PSSI telah menjadwal ulang partai final. PSM dijadwalkan menjamu Persija pada 6 Agustus 2019 di Stadion Mattoangin. Semoga pertandingan nanti benar—benar menjadi pertandingan yang berkualitas di mana setiap tim dapat menampilkan kemampuan terbaiknya. Biarkan Indonesia terhibur dengan permainan yang disuguhkan oleh dua tim terbaik negeri ini. Biarkan pertarungan lini tengah antara Sandi Sute dengan Rizky Pellu ataupun duel antara Marko Simic dengan Aaron Evans lah yang menjadi tontonan seantero Nusantara, bukan lagi Bento yang harus diperban karena terkena pecahan kaca.

Jakarta akan tetap menjadi Jakarta; kota yang begitu keras bagi mereka yang tidak mau berusaha. Dan Persija akan tetap menjadi Persija; tim juara yang tidak akan pernah berhenti berjuang sampai titik darah penghabisan. Selamat berjuang, Persijaku. Bungkus pulang piala itu ke Ibukota. Doa dan dukungan dari the Jakmania akan selalu menyertaimu.

#KotaIniMauJuaraLagi

Tinggalkan Balasan