Persija Jakarta 2-2 Arema, Analisis Litbang Jakmania

Key Points

  • Persija gagal menang di tiga pertandingan liga terakhir dan masih berada di zona degradasi
  • Marko Simic mencetak gol ke-6 nya di empat pertandingan liga terakhir
  • Persija untuk kedua kalinya kebobolan di waktu injury time. Gol tersebut memperpanjang rekor Persija yang kerap kebobolan di fase-fase akhir pertandingan, terutama 30 menit terakhir, dengan total 7 gol atau 58% dari total kebobolan. Di sisi lain, dalam fase tersebut Persija hanya bisa mencetak 2 gol.
  • Jika dilihat dari catatan tersebut, Persija banyak mencetak gol pada periode 15 menit akhir babak pertama (3 gol). Pada pertandingan melawan Arema, Persija cukup menguasai pertandingan pada waktu tersebut dengan membuat beberapa peluang ( 5 tembakan, 2 di antaranya tepat sasaran, dengan catatan semua tembakan berasal dari dalam kotak penalty lawan)

Line-up Persija

Pemain absen: Paulle, Maman (cedera)

  • Persija menurunkan formasi awal 4-3-3. Pelatih dapat kembali memainkan beberapa pemain yang sudah sembuh dari cedera seperti Andritany dan kemudian Ramdani Lestaluhu yang masuk dari bangku cadangan
  • Ryuji dan Toni berduet di lini belakang. Ini merupakan kali pertama mereka berduet di liga musim ini. Posisi bek tengah termasuk posisi yang kerap dirotasi karena pemain di posisi ini kerap mengalami cedera.
  • Ismed dan Rezaldi di posisi bek sayap. Dari skuat yang ada, pilihan keduanya di bek sayap merupakan pilihan yang terbaik, dengan memainkan pemain yang natural berada di posisi tersebut.
  • Sandi Sute kembali menjadi gelandang bertahan (no.6). Perannya lebih terlihat dalam proses build-up serangan Persija.
  • Rohit-Bruno menjadi pemain no. 8. Pemosisian keduanya cukup cair dengan tetap mempertimbangkan aspek keseimbangan spacing pemain ketika berotasi. Ketika salah satu drop, misalnya, yang lain akan tetap di depan. Rotasi dan kemampuan 1v1 keduanya sangat penting dalam membongkar pertahanan lawan. Lebih detailnya akan dibahas nanti
  • Trio Riko-Simic-Novri memimpin lini depan. Riko dan Novri seperti biasa kerap bertukar posisi. Keduanya juga aktif dalam berotasi dengan gelandang no.8 dan membuka ruang untuk bek sayap guna menyiasati penjagaan man-to-man yang diperagakan Arema

Line-up Arema

Pemain absen: Hendro (akumulasi kartu), Alfarizie, Jayus, Dedik (cedera)

  • Arema menurunkan formasi awal 4-2-3-1. dari segi formasi dan permainan secara umum Arema tidak jauh berbeda ketika menang 5-1 melawan Persib. Hanya saja terdapat beberapa penyesuaian dalam menjalani pertandingan tandang ke Persija.
  • Di lini belakang, komposisi Arema secara umum tidak berbeda jauh dengan Persija. Perbedaan terletak pada di mana mereka memasang garis pertahanan yang tidak terlalu tinggi (menengah-rendah/medium-low block).
  • Di lini tengah, Arema memainkan dua gelandang bertahan (Hanif-Pavel) untuk meredam dua gelandang Persija (Rohit- Bruno). Dalam fase menyerang, Hanif lebih aktif dalam membantu serangan bahkan mencetak gol pembuka.
  • Konate menjadi pemain no.10 (gelandang serang Arema). Kemampuannya tekniknya yang baik membuat ia diberikan peran yang cukup bebas (free role) dalam fase menyerang Arema. Serangan Arema hampir selalu melibatkan Konate.
  • Posisi pemain sayap diisi oleh Dendi dan Rivaldy. Keduanya hampir selalu bermain melebar untuk mendapatkan posisi 1v1 melawan bek lawan dan mengincar ruang di belakang pertahanan Persija.
  • Comvalius memimpin lini depan Arema sebagai striker tunggal. Perannya lebih banyak dalam turun ke lini kedua untuk menjaga sirkulasi bola. Comvalius kerap menjadi tujuan utama dalam build-up Arema, memanfaatkan postur untuk memberikan second ball kepada Konate atau kedua winger.

Persija dalam fase menyerang

Fase build-up Serangan

  • Persija banyak membangun serangan (build-up) dari bawah melibatkan kiper dan dua bek tengah. Kedua bek sayap mengambil posisi selebar mungkin. Gelandang bertahan menyediakan opsi di tengah untuk memindahkan/switch arah serangan.
  • Pressing Arema di fase build-up di bawah tidak terlalu merepotkan Persija. Selain unggul jumlah pemain (2 bek tengah vs 1 striker), Arema juga tidak memasang blok pressing tinggi. Sute juga beberapa kali menjadi pemain yang free karena penjagaan dari Konate tidak terlalu ketat. Sirkulasi bola Persija di fase ini relative aman.
  • Di lini tengah, 433 Persija bertemu dengan 4231 Arema. Secara natural terjadi duel 3v3 di sana. Persija berhadapan dengan orientasi pertahanan Arema yang berfokus pada penjagaan perorangan terhadap ketiga gelandang Persija, terutama dua gelandang di posisi yang lebih di atas (Bruno-Rohit) vs double pivot Arema (Hanif-Pavel).

Fase build-up Serangan-penciptaan peluang

  • Menghadapi blok menengah-rendah Arema, masalah mulai muncul di wilayah yang lebih di atas. Di lini tengah, 433 Persija bertemu dengan 4231 Arema. Secara natural terjadi duel 3v3 di sana. Persija berhadapan dengan orientasi pertahanan Arema yang berfokus pada penjagaan perorangan terhadap ketiga gelandang Persija, terutama Bruno-Rohit oleh double pivot Arema (Hanif-Pavel). Kedua winger Arema di kedua sisi juga menutup jalur umpan vertikal kepada Bruno dan Rohit.
  • Dalam membongkar pertahanan Arema, Persija memanfaatkan rotasi dan keunggulan dalam situasi 1v1. Rotasi antar pemain umumnya melibatkan dua pemain no. 8 dengan winger/striker. Terdapat beberapa situasi yang memperlihatkan keberhasilan rotasi tersebut dalam membongkar pertahanan Arema dan menciptakan situasi berbahaya dan peluang.
  • Pada prinsipnya rotasi yang dilakukan bertujuan untuk memanipulasi penjagaan yang dilakukan oleh pemain Arema, dengan memaksa mereka pindah ke satu sisi sehingga menciptakan ruang di area yang ditinggalkan

Salah satu upaya Persija dalam memanipulasi penjagaan Arema

  • Novri sedikit turun dan menarik Alfin (yang bertanggung jawab atas Novri) keluar dari posisinya
  • Novri segera memberi umpan kepada Bruno yang mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan Alfin. Meski diikuti oleh Hanof tetapi Bruno dapat memenangi situasi 1v1 dan bisa mengirimkan umpan silang kemudian

Fase penciptaan peluang dan eksekusi peluang

  • Persija banyak mendapatkan ruang di area yang cukup melebar. Oleh karena itu penciptaan peluang umumnya berasal dari wilayah ini.
  • Persija banyak mengandalkan umpan silang, yang dieksekusi oleh pemain no.8, winger, dan bek sayap. Umumnya umpan silang dieksekusi dari area flanks di tepi kotak penalty.
  • Dilihat dari distribusi umpan silang, banyak yang diarahkan ke area tengah kotak penalty/target man (Simic). Meski begitu hal ini cukup dapat diantisipasi karena ketika mengirim umpan, pertahanan Arema cenderung sudah siap. Variasi sebetulnya banyak dilakukan seperti mengirim umpan Tarik (cutback) tetapi kurangnya penyelesaian akhir membuat Persija gagal memanfaatkan peluang-peluang yang ada tersebut.
  • Dalam kasus gol kedua Persija juga dapat dilihat bahwa ketepatan dalam memanfaatkan sisi underload dapat memberikan keuntungan. Dengan menarik pemain Arema (yang melakukan man to man marking) ke satu sisi dapat membuka sisi yang lain.

Fase build-up Serangan-penciptaan peluang

  • Hal serupa banyak terjadi di peluang-peluang yang didapatkan Persija. Penjagaan perorangan yang dilakukan Arema terus dilakukan meski pemain Persija turun. Inilah yang dilakukan untuk menciptakan celah di lini belakang Arema
  • Salah satu peluang emas Persija pada menit 26 menunjukkan bagaimana rotasi posisi yang dilakukan secara kolektif dapat menciptakan ruang yang dapat dieksploitasi di lini pertahanan Arema.
  • 1) Riko dan Bruno turun ke posisi yang lebih rendah. Riko menarik Alfin dan memberikan Rohit space di lini belakang Arema. Sementara Bruno menarik Pavel dan membuka jalur umpan Sute kepada Simic
  • 2 ) Rezaldi memberikan umpan kepada Sute yang tidak di-marking dengan baik oleh Konate, Sute segera memberikan umpan kepada Simic, yang kemudian memberikan umpan terobosan kepada Rohit

Persija dalam fase bertahan

Poin-poin kunci

  • Persija tidak banyak melakukan pressing blok tinggi karena Arema jarang melakukan buildup dari bawah. Build-up Arema lebih banyak melalui bola-bola langsung kepada Comvalius atau kedua wingernya.
  • Persija lebih banyak melakukan Pressing dalam blok menengah 4411
  • Antisipasi Persija lebih kepada bagaimana mengatasi bola kedua dari Comvalius, yang kerap turun ke antarlini. Meski begitu, Comvalius relative mudah diantisipasi karena dia sendiri di lini depan, sehingga ketika bek Persija melakukan pressing ke depan tidak ada pemain Arema yang dapat memanfaatkan ruang yang ditinggalkan di area sentral. Arema lebih banyak mengeksploitasi ruang di sayap.
  • Arema dapat membongkar pertahanan Persija melalui beberapa momen third man run oleh pemain sayap. Untuk menciptakan situasi tersebut, Arema memanfaatkan second ball atau overload yang melibatkan gelandang yang melakukan underlap (gambar bawah)

Persija dalam fase transisi

Transisi menyerang ke bertahan

  • Sesaat setelah kehilangan bola Persija akan sesegera mungkin untuk merebut kembali penguasaan bola dan mencegah Arema mengamankan penguasaan bola atau melakukan counter attack. Persija akan melakukan hal tersebut selama jumlah pemain di belakang bola memadai. Hal ini umum dilakukan ketika Persija kehilangan bola di 1/3 akhir lapangan. Sementara ketika kehilangan bola di 1/3 tengah Persija cenderung untuk menahan/tidak melakukan counterpress karena serangan Arema di wilayah ini berbahaya apabila dapat mengeksploitasi ruang di belakang pertahanan Persija yang cukup tinggi

Transisi bertahan ke menyerang

  • Persija umumnya cukup jarang untuk langsung melakukan serangan balik setelah merebut bola. Persija cenderung untuk menjaga penguasaan bola terlebih dahulu dibandingkan langsung melakukan serangan balik. Jika melakukan serangan balik pun Persija cenderung menunggu untuk melihat jalur progresi yang aman

Catatan Pertandingan

  • Persija kembali kebobolan di menit-menit akhir. Selain waktunya, cara Persija kebobolan dua gol di pertandingan ini menunjukkan adanya kemiripan, yaitu kegagalan mengantisipasi second ball di area yang berbahaya.dalam kata lain, pertahanan Persija membuat situasi yang tadinya tidak berbahaya menjadi berbahaya
  • Pada gol pertama, bola pertama dari umpan silang Arema berhasil di-intersep. Akan tetapi bola kedua setelah (clearance yang tidak sempurna) jatuh di area yang berbahaya untuk langsung melakukan tembakan.
  • Begitu juga pada gol kedua, Persija gagal mengamankan second ball di area yang lebih berbahaya lagi, yaitu di dalam kotak penalty.
  • Persija juga banyak menyia-nyiakan peluang, terutama di babak pertama. Selain itu penciptaan dan eksekusi peluang cenderung mudah diantisipasi oleh Arema. Persija dapat menambah variasi umpan silang, misalnya dengan mengarahkan ke tiang jauh, atau mengeksekusi umpan silang dari area yang lebih ke dalam sehingga sulit diantisipasi bek-bek lawan.

Dari situasi ini sebetulnya dari bahasa tubuhnya dua bek tengah Persija sudah mengantisipasi bahwa Arema akan melakukan cutback. Akan tetapi kemudian intersep yang dilakukan tidak diikuti dengan clearance yang baik dan tanpa antisipasi pemain Arema yang muncul dari belakang. Dalam screenshot di atas Hanif (pencetak gol) bahkan belum kelihatan di frame

Lagi-lagi antisipasi yang kurang baik terhadap bola kedua (gagal clearance) membuat Persija kebobolan

Tinggalkan Balasan