Persija Daftarkan Desain Jersey, Lantas?

Dilansir dari www.persija.id, pada tahun 2020 ini Persija resmi mendaftarkan seluruh desain jersey yang digunakan Macan Kemayoran untuk berlaga pada musim 2020 dan juga logo Persija.[1] Pendaftaran desain jersey ini merupakan salah satu terobosan yang dilakukan oleh Persija untuk memproteksi ide dan desain jersey Persija musim 2020.[2] Desain jersey tersebut didaftarkan sebagai suatu Desain Industri, sedangkan logo Persija didaftarkan sebagai Merek.

Pendaftaran logo Persija sebagaimana disinggung di atas dilakukan atas nama PT Persija Jaya Jakarta, badan hukum yang menaungi Persija. Sedikit berbeda dengan pendaftaran logo Persija, desain jersey Persija musim 2020 yang didaftarkan sebagai Desain Industri, dilakukan secara bersama-sama, atas nama PT Persija Jaya Jakarta dan PT Juara Raga Adidaya, badan hukum yang menanungi JUARA, apparel dari Persija untuk musim 2020.

Lantas, apa perbedaan antara suatu “Desain Industri” dengan “Merek”? Sebelum membahas mengenai kedua hal tersebut, akan lebih elok bilamana pembahasan dimulai dari akarnya, yaitu Hak Kekayaan Intelektual.

Hak Kekayaan Intelektual (“HKI”) adalah hak yang berasal dari hasil kegiatan intelektual manusia yang mempunyai manfaat ekonomi.[3] HKI merupakan pengakuan dan penghargaan pada seseorang atau badan hukum atas penemuan atau ciptaan karya intelektual mereka dengan memberikan hak-hak khusus bagi mereka bagi yang bersifat sosial maupun ekonomis.[4] Oleh karena diperlukan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya dalam menghasilkannya serta darinya dapat diperoleh nilai ekonomi yang dapat dinikmati, maka atas penemuan atau ciptaan karya intelektual tersebut wajib dilindungi oleh hukum.

Secara umum, HKI terbagi menjadi dua bagian yaitu Hak Cipta dan hak milik perindustrian. Hak milik perindustrian terdiri dari Paten, Merek, Rahasia Dagang, Perlindungan Varietas Tanaman, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Desain Industri. Hak-hak tersebut diatur secara terpisah dan sendiri-sendiri dalam undang-undang yang mengaturnya. Untuk mendapatkan hak-hak tersebut, seseorang atau badan hukum harus mendaftarkan penemuan atau ciptaannya kepada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM (“DJKI”).[5]

Lalu, ketika Desain Industri dan Merek merupakan HKI dan juga hak milik perindustrian, apa perbedaan di antara kedua jenis HKI tersebut?

Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan.[6] Di sisi lain, Merek merupakan tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk dua dimensi dan/atau tiga dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari dua atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang dan/atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang dan/atau jasa.[7]

Akibat dari pendaftaran Desain Industri dan Merek tersebut kepada DJKI, Persija memiliki Hak Desain Industri atas desain jersey Persija musim 2020 dan Hak atas Merek terhadap logo Persija. Dengan demikian, Persija memiliki hak ekslusif untuk melaksanakan Hak Desain Industri yang dimilikinya dan melarang orang lain tanpa persetujuannya membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, dan/atau mengedarkan barang yang diberi Hak Desain Industri, dalam hal ini desain jersey Persija musim 2020.[8] Pemberian lisensi Desain Industri kepada pihak lain menjadi sepenuhnya hak Persija.[9] Persija juga memiliki hak atas logo Persija sebagai pemilik Merek. Lisensi Merek tersebut dapat dialihkan oleh pemilik Merek terdaftar, yakni Persija kepada pihak ketiga.[10] Untuk itu, pihak ketiga diharuskan memperoleh izin terlebih dahulu dari Persija, baik apabila ingin menggunakan desain jersey maupun logo Persija.

Adapun, pelanggaran terhadap kedua jenis hak kekayaan intelektual yang dimiliki oleh Persija tersebut diancam dengan pidana penjara. Pelanggaran terhadap Hak Desain Industri  diancam dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak sejumlah Rp300.000.000 (tiga ratus juta Rupiah)[11], sedangkan untuk pelanggaran terhadap Hak atas Merek diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak sejumlah Rp2.000.000.000 (dua miliar Rupiah).[12] Selain itu, Persija juga dapat mengajukan gugatan ganti rugi melalui Pengadilan Niaga atas pelanggaran kedua hak kekayaan intelektual tersebut.

Melek Hukum vol.1

Bidang Hukum the Jakmania


[1]Persija Media, Persija Resmi Daftarkan Desain Jersey ke HKI, (Jakarta: Persija Jakarta Official Website, 2020), https://persija.id/persija-resmi-daftarkan-desain-jersey-ke-hki/, diakses pada 21 Maret 2020.

[2]Ibid.

[3]Tinjauan Umum Hak Kekayaan Intelektual, (Semarang: Fakultas Hukum Universitas Diponegoro), http://eprints.undip.ac.id/62683/2/Bab2.pdf, diakses pada 21 Maret 2020, hlm. 17.

[4]Suyud Margono dan Amir Angkasa, Komersialisasi Aset Intelektual-Aspek Hukum Bisnis, (Jakarta: Grasindo, 2007), hlm. 24.

[5]Perlindungan Varietas Tanaman didaftarkan kepada Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian.

[6]Indonesia, Undang-Undang tentang Desain Industri, UU No. 31 Tahun 2000, LN No. 243 Tahun 2000, TLN No. 4045, Ps. 1 angka 1.

[7]Indonesia, Undang-Undang tentang Merek dan Indikasi Geografis, UU No. 20 Tahun 2016, LN No. 252 Tahun 2016, TLN No. 5953, Ps. 1 angka 1.

[8]Indonesia, Undang-Undang tentang Desain Industri, Ps. 9 ayat (1).

[9]Ibid,Ps. 33.

[10]Indonesia, Undang-Undang tentang Merek dan Indikasi Geografis, Ps. 42.

[11]Indonesia, Undang-Undang tentang Desain Industri, Ps. 54 ayat (1).

[12]Indonesia, Undang-Undang tentang Merek dan Indikasi Geografis, Ps. 100 ayat (1).

Tinggalkan Balasan