Mengenal Sistem Kompetisi Sepakbola Di Negara-Negara Asia Tenggara

penulis : Litbang Jakmania

Saat ini kita mengenal sistem kompetisi sepakbola Indonesia terbagi ke dalam 3 kasta, yaitu Liga 1, Liga 2, dan Liga 3. Sistem dengan format seperti ini dijalankan sejak musim 2017 saat PSSI diketuai Edy Rahmayadi.

Liga 1 berisi 18 tim, liga 2 berisi 24 tim yang dibagi ke 2 grup, lalu ada liga 3 yang jumlah pesertanya sangat banyak, dan dapat berubah setiap musimnya.

Tapi tahu kah kalian kalau ternyata format kompetisi sepakbola di setiap negara itu bermacam-macam?

Negara tetangga paling dekat dari kita, Malaysia, memiliki sistem kompetisi sampai 4 level ke bawah. Level 1 dinamakan Malaysia Super League yang berisi 12 tim, level 2 dinamakan Malaysia Premier League yang berisi 12 tim, level 3 bernama M3 League yang berisi 14 tim, dan terakhir level 4 bernama M4 League yang berisi lebih dari 200 tim, yang jumlahnya selalu berubah tiap musimnya. Kalau dilihat, M4 League ini formatnya mirip seperti Liga 3 Indonesia yang formatnya mulai dari wilayah regional.

Negara sebelahnya Malaysia, yaitu Singapura, yang penduduknya tidak lebih banyak dari Jakarta itu, punya kompetisi sepakbola sampai 6 level ke bawah. Level 1 merupakan liga professional, level 2-4 semi pro, dan level 5-6 merupakan kompetisi amatir.

Negara paling sukses di sepakbola Asia Tenggara, Thailand, memiliki kompetisi sepakbola sampai 5 level ke bawah. Thai league 1, 2, 3 merupakan kompetisi professional, sementara thai league 4 kompetisi semi pro, dan level ke lima liga Thailand yang bernama Thailand Amateur League, tentu saja berisi klub amatir, sesuai namanya.

Untuk jumlah pesertanya, Thai league 1 berisi 16 klub, thai league 2 18 klub, thai league 3 28 klub, thai league 4 60 klub, sementara Thailand Amateur League jumlah kontestannya selalu berubah tiap musim, selayaknya liga amatir di belahan dunia mana pun.

Negara yang merupakan rising star di sepakbola asia tenggara, Vietnam, saat ini memiliki 4 level kompetisi sepakbola. V league 1 berisi 14 klub, V league 2 berisi 12 klub, Vietnam second league berisi 14 tim yang dibagi 2 grup, dan Vietnam third league yang berisi 8 klub.

Filipina, yang klub sepakbolanya bisa berbicara banyak di kancah asia tenggara, ternyata baru memiliki liga sepakbola professional selepas performa mengejutkan mereka di piala AFF 2010. Menurut data yang bisa ditemukan di internet, saat ini Filipina hanya memiliki 1 kasta kompetisi sepakbola di negaranya, yang hanya berisi 6 klub. Yang cukup mengejutkan, mulai musim 2021, Filipina mendapatkan jatah langsung di fase grup Liga Champions Asia. Ini disebabkan performa klub Filipina yang sangat baik di AFC Cup pada musim 2017-2020.

Myanmar memiliki format kompetisi yang sama dengan Indonesia, 3 level, level 1 dan 2 level pro dan level 3 level amatir. Karena sama seperti Indonesia, makanya prestasinya juga tidak jauh berbeda.

Brunei Darussalam, kesultanan melayu di utara Kalimantan, memiliki 1 kompetisi sepakbola, yaitu Brunei Super League, berisi 16 tim. Nah uniknya sepakbola Brunei, saat ini mereka memiliki klub sepakbola yang berkompetisi di liga singapura, yaitu DPMM FC.  DPMM FC berkompetisi di Singapura sejak tahun 2009 dan bahkan sempat juara di tahun 2015.

Dua negara terakhir yang belum kita bahas di artikel ini, yaitu Laos dan Kamboja, memiliki masing-masing 1 dan 2 level kompetisi sepakbola di negaranya.

Di Laos, ada Lao Premier League yang berisi 6 tim. Di Kamboja ada C League yang merupakan kompetisi kasta teratas yang berisi 13 tim, dan Cambodia Second League yang jumlah kontestannya berubah-ubah setiap tahun karena merupakan kompetisi level amatir.

Dari fakta-fakta di atas mengenai liga-liga negara Asean, bisa disimpulkan kalau liga yang memiliki level kompetisi lebih banyak dari Indonesia cenderung memiliki prestasi yang baik di kompetisi klub level asia dan level tim nasional, pengecualian untuk Filipina yang bahkan liganya baru terbentuk di tahun 2017, mereka bisa berbicara banyak di kancah Asia berkat Ceres Negros dan pemain naturalisasinya.

Tinggalkan Balasan