2018 Milik Persija

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke dua puluh. Manajemen menyiapkan tim dengan matang kala itu, tidak terlalu jauh merombak tim dari liga sebelumnya membuat kekuatan Persija tidak bisa dianggap remeh. Menjadi tim dengan jumlah kemasukan sedikit dan jumlah gol yang lumayan banyak menjadi bukti bahwa skuad Juara memang sudah terbentuk dari awal. Sinyal bagus diberikan anak-anak Jakarta saat menjuarai Turnamen di Malaysia. Tak lama kemudian, Persija menjuarai turnamen pramusim Piala Presiden yang membuncahkan optimisme di kalangan the Jakmania. Lalu Persija menatap percaya diri Liga. Beberapa pertandingan krusial berhasil di menangkan termasuk laga laga away guna mengamankan poin 3 dan slot asia. Hingga

Dream Team Tanpa Mahkota

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sembilan belas. Persija sukses mempersiapkan tim dengan matang dengan mengunci pemain pemain level 1 dengan bertabur bintang. Mulai dari sektor penjaga gawang hingga penyerang tidak ada celah untuk terlihat lemah. Bermain dengan sistem 2 wilayah kala itu, Persija tidak melangkah mulus menuju 8 besar. Namun modal 4 kemenangan di laga awal dan kemenangan tanpa tanding dengan Persib membuat Persija melaju di papan atas. Juga dengan skuad yang apik membuat Persija mampu lolos ke 8 besar bertemu PSM, Persebaya juga PSIS. Mampu menang melawan PSIS dengan menggilanya performa Agus Indra yang menciptakan 2 gol, imbang dengan

Juara Perdana di era Ligina

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke delapan belas. Baru pada Ligina VII atau yang lebih akrab disebut Liga Bank Mandiri, Persija memantapkan diri menjadi jawara liga kala itu. Mengalahkan PSM dengan skor tipis 3-2, Bepe menjadi momok berbahaya saat itu untuk skuad Jukueja dengan 2 golnya dan 1 gol diciptakan oleh Imran Nahumarury juga berkat tendangan Bepe yang menjadi blunder Hendro Kartiko. PSM membalas lewat gol mantan bintang Persija Miro Baldo Bento dan juga Kurniawan. Hingga berakhirnya partai pamungkas, skor tidak berubah 3-2 dan memantapkan Persija meraih trofi perdana edisi Ligina dan menggenapkan 10 gelar juaranya sehingga menyematkan 1 bintang

Pahit untuk Persija, Manis untuk the Jakmania

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke tujuh belas. Ada obrolan warkop yang mengatakan kalau Persija sedang punya skuat mumpuni, mendadak liga tidak jalan. Hal ini kita alami di tahun 2020, bahkan 2015 kita juga mengalami hal tersebut. Nasib tidak bagus seperti itu justru pertama kali dialami Persija saat musim 1997/98 atau Ligina IV. Persija berambisi membangun tim besar demi menghilangkan dahaga gelar 18 tahun. Niatan ini pun diamini oleh Gubernur Sutiyoso. Gerbong pemain bintang dari Mastrans Bandung Raya didatangkan seperti Nuralim, Olinga Atangana, Budiman Yunus, hingga M. Ramdan. Terdapat pula bintang saat itu Miro Baldo Bento. Rencana Persija nyaris sesuai harapan, menduduki

Om Hen Seorang Legenda yang Melahirkan Banyak Legenda

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke enam belas. Ketika itu Sugih Hendarto masih menjadi kepala SSB Persija, Ketua Umum Persija saat itu Todung B. Lumbanraja mengangkat Om Hen menjadi pelatih kepala Persija menggantikan pelatih sebelumnya Reni Salaki, dengan tugas berat karena pada liga tahun 1985 Persija berada pada ancaman degradasi. Tugas terselesaikan dengan membawa Persija keluar dari ancaman degradasi dan membawa kembali Persija sebagai tim besar yang berkualitas di tahun berikutnya. Di era liga tahun 1987/88 itulah Om Hen menjadikan Persija meraih kemenangan demi kemenangan tanpa kekalahan hingga melaju ke laga puncak namun di final akhirnya dikandaskan oleh Persebaya. Pelatih

Satu Bintang di Dada Tersemat Nama Sofyan Hadi

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke lima belas. Arsitek Persija di tahun 2001 yang sukses membawa Persija juara di Era Liga Indonesia hingga menjadikan Macan Kemayoran memiliki satu bintang diatas logonya yang menandakan genap 10 gelar juara liga didapatkan Persija. Tiga gelar juara pada tahun 1973, 1975 dan 1979 terdapat nama Sofyan Hadi yang menyumbangkan gelar ketika menjadi pemain di Persija. Pada tahun 1979 juga Sofyan Hadi dipercaya menjadi kapten tim. Bukan hanya gelar, tetapi Sofyan Hadi juga melahirkan legenda Persija dan Indonesia saat ini, Bambang Pamungkas muda saat itu diorbitkan oleh Beliau dan menjelma menjadi penyerang hebat kala itu hingga namanya

Peranakan

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke empat belas. Membicarakan komunitas Warga Jakarta, tidak lengkap kalau tidak membahas mengenai peranakan khususnya peranakan Tionghoa dan Arab. Begitu pula dengan Persija. Banyak pemain peranakan yang silih berganti memperkuat dan memberikan prestasi untuk Persija. Beberapa pemain dan pelatih peranakan Tionghoa yang pernah membela panji Merah-Putih seperti Chris Ong, Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw, Fam Tek Fong, Surya Lesmana (Liem Soei Liang), serta Pelatih Dr Endang Witarsa dan Sugih Hendarto. Terbaru, Persija pernah diperkuat Sutanto Tan di era 2010an. Sedangkan dari peranakan Arab memiliki beberapa pemain kunci seperti bek sayap Sutan Harhara yang menyumbangkan beberapa gelar

Sinyo “the Unbeaten” Aliandoe

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sebelas. Sinyo Aliandoe merupakan sosok spesial. Beliau menjadi sosok pertama yang berhasil menjadi juara baik sebagai pemain dan menjadi pelatih. Lebih spesialnya lagi, ketika menjadi juara pada tahun 1964 dan 1973, Persija menjadi juara dengan status tidak terkalahkan!Performa solid Sinyo Aliandoe di lini tengah mampu membuat Persija berhasil menyelesaikan Perserikatan 1964 dengan rekor 7 kemenangan dan satu hasil seri. Prestasi tersebut Beliau ulang lagi saat menjadi pelatih Persija Jakarta pada umur 33 tahun di tahun 1973. Racikan Sinyo berhasil membuat Persija kembali juara dengan status

Iswadi ‘Boncel’ Idris

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke tiga belas. Pemain kelahiran Aceh yang besar di Cikini ini memulai kiprah sepakbolanya di salah satu klub internal Persija Merdeka Boys Football Association atau lebih akrab dengan nama MBFA. Padahal cita cita Bang Is kecil adalah sebagai pelari cepat. Di usia 17 tahun, bermain apik sebagai gelandang membuat namanya terpromosi ke skuad utama Persija di tahun 1966. Sayang di debut karir profesionalnya, Persija hanya mampu menduduki peringkat 4 Perserikatan saat itu. Dua kali Bang Is membawa Persija merengkuh juara di tahun 1973 dan 1975. Jika saja di tahun 1978 menang melawan Persebaya, tentu 3 torehan piala

Medan – Jakarta Juara Bersama

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke dua belas. Gelar juara Persija ke 8 yang diraih tahun 1975 meinggalkan cerita unik yang mungkin sulit untuk diulang kembali di masa depan. Perserikatan tahun 1975 yang mempertemukan Persija dan PSMS di Senayan, tidak menghasilkan pemenang, dan bahkan pertandingannya dihentikan di menit ke 40 saat skor sedang imbang 1-1. Dihentikannya pertandingan tersebut disebabkan terjadinya kerusuhan antar pemain di atas lapangan, yang sampai membuat polisi harus turun tangan untuk melerainya. Ketua PSSI yang hadir saat itu, Bardosono, memutuskan untuk menghentikan pertandingan dan menetapkan Persija dan PSMS menjadi juara bersama Perserikatan tahun 1975 demi kepentingan nasional.