Gareng yang Lekat dengan Rekor Gol

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sepuluh. Membahas Tim Juara 1964 tidak akan lengkap tanpa membahas Soetjipto Soentoro atau Gareng. Kehebatannya mencetak gol sudah tidak diragukan lagi. Saat menjadi tim yang tidak terkalahkan pada Perserikatan 1964, Persija mampu menorehkan 34 gol dari delapan pertandingan, dimana 16 dari 34 gol tersebut dilesakkan oleh Gareng. Hal tersebut menandakan bahwa 47% gol Persija disumbangkan oleh Beliau. Fakta lainnya yakni, rata rata Gareng memasukkan 2 gol setiap pertandingan yang dijalaninya.Kehebatan Gareng tidak hanya sampai disitu saja. Rekor pencetak gol terbanyak Timnas Indonesia sampai saat

DOMINGGUS

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sembilan. Walaupun Referendum Papua baru dilaksanakan pada tahun 1969, namun Persija Jakarta sudah diperkuat talenta dari Bumi Cendrawasih pada saat Perserikatan tahun 1964. Sosok tersebut adalah Dominggus Waweyai. Bakat Dominggus membuat pelatih Persija saat itu, Dr Endang Witarsa kepincut dan mengajaknya bergabung dengan Persija. Dominggus menjadi andalan di lini depan saat menjuarai Perserikatan pada tahun 1964

TIGA BELAS

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke delapan. Musim Juara 1954 menyimpan sebuah fakta unik. Pada musim tersebut, Persija Jakarta mencetak rekor kemenangan terbesar selama berpartisipasi dalam kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Dikutip melalui laman arsip sepakbola RSSSF.com, pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persis Solo di Surabaya tersebut dimenangkan Persija dengan skor 13-0. Pietersen mencetak 6 gol pada saat itu, disusul oleh Hassan dengan 4 gol, lalu pemain andalan Persija kelahiran Yogyakarta, Djamiat Dalhar mencetak 2 gol, dan satu gol bunuh diri dicetak oleh pemain Persis Ping Tjiang.

SANG MACAN BETAWI

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke tujuh. Kalau ditanya siapa Pemain Persija Jakarta terbaik di era 1950an? Tidak sedikit yang menjawab nama Tan Liong Houw.Beliau adalah produk asli dari Klub Internal Persija Jakarta yakni PS Tunas Jaya (Chung Hua). Dikarenakan gaya bermainnya yang keras dan militan, pemain yang berposisi sebagai gelandang kiri tersebut dijuluki "Macan Betawi" walaupun Beliau beretnis Tionghoa.Tan Liong Houw merupakan salah satu punggawa Timnas Indonesia yang berlaga di Olimpiade Melbourne 1956. Pada saat itu Indonesia sempat menahan tim kuat Uni Soviet dengan skor 0-0. Tan Liong Houw sendiri dipercaya

Oranje di tubuh Merah-Putih

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke enam. Di awal Masa Kemerdekaan, Jakarta masih didiami oleh banyak komunitas Eropa keturunan. Hal tersebut juga berlaku di Persija Jakarta. Tercatat beberapa nama pemain Indo-Belanda yang pernah membela panji Merah-Putih seperti Pietersen, Boellaard, Pesch, Joop de Freetes, hingga kiper kawakan Arnold van der Vin yang menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang saat Persija meraih gelar juara di tahun 1954

Ketua VIJ yang juga Ketua Mahkamah Agung Pertama

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke lima. Kita semua sudah tahu kalau Pahlawan Nasional MH Thamrin adalah salah satu tokoh yang sangat dekat dengan Persija Jakarta. Namun, ada satu lagi Pahlawan Nasional yang memiliki kontribusi yang besar untuk Persija, yakni Dr. Kusumah Atmadja.Pahlawan yang lahir di Purwakarta ini merupakan Ketua VIJ yang kedua. Bersama MH Thamrin, Kusumah Atmadja bahu-membahu membangun Persija Jakarta di awal pendiriannya. Setelah merdeka, Beliau diangkat sebagai Ketua Mahkamah Agung RI yang pertama. Dr. Kusumah Atmadja dikukuhkan sebahai Pahlawan Nasional pada tahun 1965

Dari VBB sampai Persija

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke empat Hampir berusia satu abad, banyak cerita dialami Persija Jakarta termasuk nama dan penyebutannya. Persija didirikan dengan nama Voetball Boemi Putra, namun pada Juni 1929, VBB ingin nama bond sepakbola di Jakarta ini memiliki unsur Indonesia-nya. Muncul lah nama Voetbalbond Indonesia Jacatra.Setelah Belanda pergi, akhirnya klub kita mengubah namanya menjadi PERSIDJA atau Persatuan Sepak Raga Indonesia Djakarta. Hal unik sesaat setelah kemerdekaan Indonesia adalah Persija sempat memakai nama PORI Cabang Djakarta namun tidak lama. Akhirnya, pada tahun 1950 bond yang didirikan Soeri dan Alie ini

Gara-gara si Jago Merah, lahirlah Persija

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke tiga. Kebakaran di Gang Bunder, Pasar Baru pada 1928 menggerakkan sekelompok pemuda pribumi untuk membuat aksi sosial melalui permainan sepakbola. Sayangnya, saat itu diskriminasi masih marak dilakukan penjajah Belanda. Akhirnya, kelompok pemuda pribumi tersebut membentuk sebuah bond sepakbola yang tidak sekedar hanya untuk bermain bola, tetapi juga alat perjuangan menuju kemerdekaan.Pada November 1928, dipelopori pemuda pribumi, lahirlah Voetball Boemi Poetra yang pada akhirnya menjadi Persija yang kita kenal saat ini.

1938, Gelar Keempat dan Menjadi yang Pertama Terekam Media

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke dua. 1938, Gelar Keempat Persija Jakarta yang Masih Terekam MediaPersija Jakarta sebagaimana yang kita ketahui memang sudah menjadi juara sejak tahun 1931. Namun, yang terekam oleh media ditemukan pada tahun 1938. Saat itu, Persija Jakarta yang masih menggunakan nama VIJ berhasil mengalahkan Persis dengan skor 3-1. Pertandingan dimainkan di Stadion Sriwedari Solo.

Kawasan Weltevreden yang Dekat dengan Persija Jakarta

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang pertama.Tahukah kamu bahwa Persija Jakarta itu sangat identik dengan yang namanya Kawasan Weltevreden?Kawasan Weltevreden yang sedari dulu merupakan kawasan Pusat Jakarta memang sangat lekat dengan tim kebanggaan kita Persija Jakarta. Baik kawasan Koningsplein (saat ini kawasan Monas) maupun Waterlooplein (saat ini Lapangan Banteng). Kedua lapangan ini adalah lapangan tempat dimana para pemain Persija Jakarta mengolah si kulit bundar.Koningsplein yang setelah kemerdekaan dikenal dengan Lapangan Ikada pernah menjadi kandang Persija, bahkan Persija sempat berkantor di stadion yang dirubuhkan untuk pembangunan Monas tersebut. Sedangkan,