Final yang Tertunda

Hari itu, Sabtu, 27 Juli 2019, kira-kira pukul 07.00 saya tiba di Makassar. Mengawal kebanggaan, Persija Jakarta, tak lain dan tak bukan adalah tujuan utama dalam kunjungan pertama saya ke Pulau Sulawesi. Persija Jakarta yang telah mengantongi keuntungan kemenangan 1-0 di Jakarta melalui gol dramatis Ryuji Utomo akan dijamu PSM Makassar di Mattoangin pada final leg ke-2 Piala Indonesia. Partai ini jelas merupakan partai besar yang melibatkan dua tim besar era perserikatan dan dua tim terbaik di Indonesia setidaknya dalam rentang waktu dua tahun terakhir. Selain itu, psywar melalui media sosial yang sudah dilakukan suporter kedua tim bahkan jauh hari sebelum pertandingan di gelar menjadi bumbu tambahan yang seharusnya membuat kedua tim semakin bersemangat untuk memenangkan pertandingan. Suasana di Makassar hari itu sangat “sepakbola.” Spanduk-spanduk bertuliskan “Spirit 2000” dan “Kota ini harus

Aku, Persija dan Cinta yang Terlanjur Agape

Penulis adalah simpatisan Persija yang berasal dari Parung, Kabupaten Bogor. Kontak penulis: Email: gugun.gunaedi20@gmail.com Facebook: Gugun Gunaedi Twitter: @gugungunaedi Instagram: @ketoprak_basi Awal diriku mulai mengenal dan menyukai Persija adalah tahun 2005. Pada tahun 2005 Aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Di musim itu Persija berhasil melangkah hingga babak final Liga Indonesia sebelum dikalahkan Persipura dengan skor 2-3 di partai puncak yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Jujur, awal mula diriku menyukai Persija pada saat itu adalah karena sosok Agus Indra Kurniawan alias si "Jepang" yang menjadi sosok idola bagi Jakmania kala itu. Tak dipungkiri penampilan pemain asal Gresik ini pada musim 2005 sangatlah ciamik, terlebih ketika aksinya di babak 8 besar, semifinal dan final. Akan tetapi cidera yg di dera-nya sewaktu final mengharuskan dirinya ditarik keluar lapangan lebih dulu dibanding rekan-rekannya, meskipun begitu dirinya telah menyumbangkan 1