Aku, Persija dan Cinta yang Terlanjur Agape

Penulis adalah simpatisan Persija yang berasal dari Parung, Kabupaten Bogor.

Kontak penulis:

Email: gugun.gunaedi20@gmail.com

Facebook: Gugun Gunaedi

Twitter: @gugungunaedi

Instagram: @ketoprak_basi

Awal diriku mulai mengenal dan menyukai Persija adalah tahun 2005. Pada tahun 2005 Aku masih duduk di bangku kelas 3 SD. Di musim itu Persija berhasil melangkah hingga babak final Liga Indonesia sebelum dikalahkan Persipura dengan skor 2-3 di partai puncak yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Jujur, awal mula diriku menyukai Persija pada saat itu adalah karena sosok Agus Indra Kurniawan alias si “Jepang” yang menjadi sosok idola bagi Jakmania kala itu. Tak dipungkiri penampilan pemain asal Gresik ini pada musim 2005 sangatlah ciamik, terlebih ketika aksinya di babak 8 besar, semifinal dan final. Akan tetapi cidera yg di dera-nya sewaktu final mengharuskan dirinya ditarik keluar lapangan lebih dulu dibanding rekan-rekannya, meskipun begitu dirinya telah menyumbangkan 1 gol di partai puncak melawan Mutiara Hitam. Di tahun 2005 Aku belum mendukung Persija secara langsung di stadion. Walaupun belum pernah hadir langsung di stadion dan merasakan betapa emosionalnya ketika tim kesayangan menang, dan merasakan sedih ketika tim kesayangan kalah, namun ketika pengadil di lapangan meniupkan peluit akhir pada final Liga Indonesia 2005, air mata kesedihan turun sangat deras tatkala Persija gagal meraih gelar juara. Air mata tulus anak kelas 3 SD yang di dalam hatinya sudah mulai tersemai cinta kepada suatu objek.

Pertama kali diriku merasakan atmosfer langsung di stadion adalah di penghujung tahun 2006. Pada saat itu aku merengek-rengek kepada Bapak agar bisa menyaksikan pertandingan antara Persija vs PSMS dalam lanjutan turnamen Piala Emas Bang Yos yang dihelat di Stadion Lebak Bulus. Kalau tidak salah, pada waktu itu Persija dipaksa bertekuk lutut oleh Ayam Kinantan yang pada saat itu menyandang status sebagai juara bertahan di turnamen pra-musim tersebut. Pengalaman yang menurutku kurang mengenakan karena baru pertama kali hadir di stadion, namun langsung melihat tim kesayangan menderita kekalahan. Ah sial… Namun ada beberapa hal yang membuatku merasa senang karena telah hadir langsung di Stadion Lebak Bulus, setidaknya ada 3 hal. Yang pertama, dapat merasakan atmosfer yang ‘gilak’ dari The Jakmania, sehingga membuat stadion Lebak Bulus seperti “neraka” bagi tim tamu. Kedua, bisa bertatapan langsung dengan para pemain Persija yang jaraknya itu sangatlah dekat (maklum Stadion Lebak Bulus tidak memiliki jogging track). Dan yang ketiga, diriku bisa berbelanja merchandise Persija di pelataran Stadion Lebak Bulus. Aku sangat ingat, t-shirt pertama yang Aku beli bertuliskan “Gue Anak Jakarta” seharga 15 ribu. Lalu syal pertama yang Aku beli bertuliskan “Persija: sang pembunuh” seharga 5 ribu. Pada tahun 2006, dengan total uang 20 ribu rupiah kalian bisa mendapatkan t-shirt dan syal hahaha.

Waktu terus berlanjut, detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam, dan begitulah seterusnya sesuai dengan apa yang telah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Aku sempat merasakan menonton pertandingan Persija dengan menaiki kap mobil angkutan umum, bus dan nebeng kendaraan terbuka pun pernah kualami. Walaupun beresiko, namun berdiri diatas angkutan umum untuk menyanyikan chant khas Jakmania dengan suara lantang sembari mengibarkan bendera Persija adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi aku pribadi dan Jakmania pada umumnya yang telah merasakannya. Di tahun 2007 Aku sempat mengelabui salah satu guru SD dengan cara berpura-pura sakit agar bisa pulang lebih awal untuk menonton Persija di stadion Lebak Bulus dalam pertandingan Copa Dji Sam Soe menghadapi PSM Makassar. Dibantu oleh salah satu temanku, akhirnya hal konyol itu pun terlaksana. Tentunya hal tersebut sangat tidak disarankan bagi kalian yang membaca tulisan ini (terutama yang masih duduk di bangku sekolah), cukup aku dan seorang temanku saja yang melakukan hal tidak terpuji ini hahaha. Atau kalian yang membaca tulisan ini pun pernah melakukan hal yang serupa? hahaha. Aku juga pernah terlibat konflik dengan supporter lain yg bisa disebut sebagai rival dari Jakmania (daerah rumahku di daerah Bogor yang masih rentan terhadap konflik supporter). Memang banyak suka dan duka tatkala mendukung tim kesayangan bertanding, namun hal itu semata-mata karena kita (Jakmania) ingin memberikan yang terbaik untuk Persija dan berharap Persija bisa menjadi yang terbaik. Seperti sepenggal lirik lagu dari salah satu band Jakmania (Gondal Gandul) yang sarat mengandung nilai filosofis; “Menerjang badai dan bara, maju bahu membahu, ayo Persija bangkitlah jadilah nomor satu!”

Seiring berjalannya waktu, entah kenapa dalam beberapa tahun belakangan ini Aku lebih banyak menyaksikan Persija dari layar kaca. Walaupun jarang hadir di stadion, namun tak henti-hentinya doa selalu kupanjatkan agar kemenangan selalu menaungi Macan Kemayoran. Tapi di setiap musim Aku pasti menyempatkan diri untuk hadir langsung di Stadion, baik itu di GBK ataupun di Patriot Bekasi, namun hal itu tak se-intens ketika waktu masih duduk di bangku sekolah. Ketika waktu masih duduk di bangku sekolah, hampir di setiap laga home Persija Aku selalu usahakan untuk hadir langsung di stadion. Bagiku mendukung langsung di Stadion adalah suatu cara bagi kita (supporter) untuk menunjukkan rasa cinta yang nyata terhadap tim kebanggaan, baik itu dari segi materi (pembelian tiket) dan tenaga (sorakan dan nyanyian).

Perlu dicatat!. Minggu, 9 Desember 2018 adalah hari penuntasan rindu yang telah dirasakan sekian lama oleh para Jakmania dan seluruh simpatisan Persija. Catat itu; PENUNTASAN RINDU! Pada hari Minggu 9 Desember 2018 dibawah langit kota Jakarta yang sedikit mendung namun tak hujan, diatas rumput hijau Stadion Utama Gelora Bung Karno, di dukung langsung oleh kurang lebih 68.000-an Jakmania, dan didoakan oleh jutaan Jakmania yang ada di seluruh dunia, Persija Jakarta berhasil menjadi juara Liga 1 2018 setelah mengandaskan perlawanan Mitra Kukar dengan skor akhir 2-1. Iya juara! Suatu penuntasan rindu yang sangat indah. Setelah terakhir kali menjadi juara di tahun 2001, atau lebih tepatnya 17 tahun yang lalu, kini Persija berhak kembali menyandang sebagai klub terbaik di Indonesia tahun 2018. Selamat untuk kamu, Persija Jakarta! Namun bagi Aku pribadi, ini adalah penantian rindu selama 13 tahun selama Aku mulai kenal dan mulai cinta dengan Persija. Dan pada 9 Desember 2018 air mataku menetes di stadion GBK, stadion yang sama ketika Persija gagal merengkuh gelar juara Liga Indonesia tahun 2005, tentunya kali ini yang menetes adalah air mata bahagia dan haru. Jika boleh Aku menganalogikan, Tuhan telah menggantikan air mata kesedihan ku di tahun 2005 dengan air mata kebahagiaan di tahun 2018. Sekali lagi; penuntasan rindu yang sangat indah!

Teruslah menjadi Macan yang buas akan gelar, baik itu di level nasional ataupun internasional. Penuhi lemari mu dengan piala, berdirilah di atas podium tertinggi dan berilah kebahagiaan kepada Jakmania yang ada di seluruh penjuru dunia. Terimakasih Persija-ku, karena kalau aku boleh jujur kaulah objek yang sudah mengajariku tentang cinta yang sangat agape!

*Note: Agape adalah istilah dalam filsafat Yunani yang menggambarkan tentang tingkatan cinta paling tinggi, atau bila disederhanakan Agape adalah cinta yang tulus serta murni, tanpa ada embel-embel apapun di dalamnya.

Tinggalkan Balasan