MEMELIHARA ASA

Ditulis Oleh :

Bung Ferry Indrasjarief
Pendiri dan Mantan Ketum the Jakmania

Tahun 2020 tadinya gue berpikir akan jadi tahunnya Persija. Dengan materi pemain yang ‘wah’ dan Tim Pelatih yang menjanjikan, rasanya Persija akan mampu meraih posisi puncak lagi. Memakai tagline BELIEVE IN 12, Persija terlihat begitu bersemangat dan serius untuk meraih gelar ke 12 bersama dengan pemain ke 12, the Jakmania. Launching Tim pun digelar dengan apik, dan jersey yang dikenakan sangat elok dan mempunyai filosofi yang mencerminkan Jakarta. Pas banget, tahun 2020 dipimpin oleh Sang Manajer Bambang Pamungkas yang pernah menggunakan nomor punggung 20.

You can’t always get what you want. Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita mau. Baru berjalan 3 pertandingan, pandemi Virus Corona melanda. Kompetisi dihentikan sementara. Semua pemain diminta untuk melakukan latihan mandiri di kediaman masing-masing. Sebulan, dua bulan, tetap belum ada tanda-tanda virus akan mereda. Klub mulai menjerit, pemasukan dari tiket tidak ada, sponsor menahan pembayaran, sementara hak siar tv pun tak bisa diharapkan. Akhirnya federasi mengeluarkan kebijakan baru menyikapi situasi tersebut. Klub diperkenankan untuk melakukan pemotongan nilai kontrak. Sudah pasti pro kontra timbul. Terutama dari pemain yang memang kontraknya tidak besar. Namun semakin hari suara kontra makin menghilang. Gue menganggap persoalan ini terselesaikan. Beban klub dikurangi, sementara pemain dan pelatih tetap menerima gaji yang sudah disesuaikan, meski tanpa bertanding.

Liga 2020 akhirnya dihentikan, karena hingga akhir tahun tetap tidak bisa dijalankan. Tahun 2021 muncul secercah harapan. Lewat upaya gigih Menpora, sepakbola Indonesia menggelar Turnamen Piala Menpora yang diikuti oleh tim-tim Liga 1. Persija menggebrak. Dengan materi pemain yang tidak jauh berbeda, hanya kehilangan seorang Evan Dimas yang hengkang ke Bhayangkara, Persija keluar sebagai Juara. Coach Sudirman menjawab keraguan mayoritas masyakarat sepakbola Indonesia. Muncul julukan Pep Guadirman sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerjanya. Pemain naturalisasi Persija, Marc Klok dinobatkan sebagai Pemain Terbaik.

Tapi bukan Persija kalau ga bisa mempermainkan perasaan suporternya. Selesai Piala Menpora, Sute dan Hersus dilepas ke Persis Solo. Spontan the Jakers meradang. Terutama kepergian Sute banyak dipertanyakan. Sosok yang satu ini memang sudah melekat di hati the Jakmania. Konon posisi tengah dianggap terlalu banyak sehingga Persija terpaksa melakukan pengurangan. Jawaban ini tetap banyak yang ga bisa menerima. Mereka membandingkan dengan nama-nama pemain yang dipertahankan. Di tengah kontroversi kepergian Sute, Persija mengumumkan pelatih baru. Angelo Alessio, asal Italia. Prestasi di klub lamanya memang mentereng, tapi dia lebih banyak berperan sebagai Asisten Pelatih. Pengalaman sebagai Pelatih Kepala hanya di Kilmarnock, Skotlandia yang bertengger di posisi 5 klasemen akhir. Sejenak kegusaran mereda.

Hingga mendadak sontak Marc Klok mengumumkan kalau dia sudah tidak bersama Persija lagi. Klok tidak bisa menerima perubahan kebijakan terkait kontraknya di Persija. Perubahan tsb sebetulnya berlaku untuk seluruh pemain baik asing maupun lokal. Tapi dengan Klok, Persija tidak menemui kata sepakat. Kali ini Klok yang jadi sasaran. Muncul istilah MoneyKlok sebagai bentuk tudingan kalau pemain yang satu ini lebih mementingkan uang daripada memahami kesulitan yang dialami klub efek pandemi yang berkepanjangan. Belum reda masalah Klok, Alfath Fathir pamit diri lewat instagramnya. Keinginan untuk dapat kesempatan bermain lebih banyak jadi alasannya. Di Persija posisi bek kanan dan kiri seperti sudah jadi milik Marco Motta dan Rizaldi Hehanusa. Sorotan kembali bergeser ke Persija. Banyak banget yang mentioned gue nanya soal keset ……. “kapan welcomenya?”

Satu yang jadi catatan gue. Semua berita itu selalu datangnya lebih dahulu dari pemain yang bersangkutan. Bukan dari klub. Setelah terjadi polemik, baru ada penjelasan. Pemain datang dan pergi memang hal biasa dalam dunia sepakbola professional. Tapi banyak pertanyaan yang muncul dengan kepergian para pemain tersebut di atas. Dan sebagai kekasih abadi Persija, sangat wajar kalau the Jakmania butuh jawaban dan penjelasan. Yang pertama, kalau memang Klok belum ada kesepakatan dengan Persija, kenapa Sute dilepas? Sekarang kita kehilangan keduanya. Di sisi lain, kenapa Klok baru memutuskan sekarang? Saat tim harusnya sedang mematangkan kerjasama. Kenapa ga dari dulu aja biar Persija punya waktu cukup untuk mencari pengganti. Demikian juga dengan Alfath. Kenapa baru sekarang ambil keputusan keluar? Dan kalau memang dia sudah terikat kontrak dengan Persija, begitu mudahkah Persija menuruti kemauannya? Hadeuh, Persija emang penuh cerita sarat emosi. Klok kabarnya sedang menyiapkan tuntutan atas haknya di Persija. Biarin ajalah. Ketika ada ketidaksepakatan perubahan kontrak, pasti ada pihak yang merasa dirugikan. Dan sejauh keputusan Persija memang sesuai aturan yang berlaku, kita tidak perlu khawatir. Lebih baik fokus ke depan.

Kembali ke pertanyaan soal keset, kapan welcomenya? Dari dulu Persija selalu melakukan perekrutan pemain baru untuk melengkapi kebutuhan tim. Dan seringkali pemain yang didatangkan adalah pemain yang berada di level atas. Wajar, kan pengen juara. Sekarang coba kita lihat di tim Persija sekarang. Di semua lini kita punya pemain yang bisa diandalkan. Andritany, Dutra, Jan Motta, Marco Motta, Bule, Rohit ‘Setia’ Chand, Toncip, Ramdani, Hay, Rico dan Simic. Starter yang menjanjikan. Tapi kita bicara kompetisi panjang. Butuh lebih dari 11 pemain yang siap tanding. Deretan berikut dari pemain Persija adalah pemain tua dan muda. Semangat dan Loyalitas mereka tidak perlu diragukan. Tapi keterbatasan fisik dan pengalaman tetap harus jadi perhatian. Pelatih baru tentunya belum paham pemain lokal. Waktu yang sudah mepet menyisakan sedikit sekali pemain yang bisa direkrut. Atau dengan jalan transfer dari klub lain. Dan itu harus dilakukan segera. Untuk memberi kesempatan berlatih bersama. Untuk memahami skema permainan yang diinginkan pelatih. Dan untuk meyakinkan the Jakmania bahwa Persija masih serius untuk meraih gelar yang ke 12. BELIEVE IN 12 !

One thought on “MEMELIHARA ASA

  1. Merasa terwakilkan dan perlu jawaban tentunya dr Persija sendiri, terutama alasan keluarnya sute yg katanya karena persaingan lini tengah terlalu gemuk, padahal di sisi lain pemain belum sepakat dgn kontrak baru. (Tanpa mengesampingkan pemain lain) Alhasil sekarang hanya ada nama Rohit yg bener2 layak mengisi slot gelandang

Tinggalkan Balasan