Jadi Satu Bintang “Anang Ma’ruf”

Di masa kini Persija punya Novri Setiawan yang bisa dimainkan di beberapa posisi, dulu Persija punya Anang Ma'ruf. Arek Suroboyo yang berhasil jadi juara Indonesia 3 kali. Bagi generasi 90an, nama Anang Ma’ruf menjadi jaminan sebuah tim untuk berprestasi. Mental juaranya diperlihatkan saat Anang membawa Persebaya Surabaya juara di tahun 1997. Bersama Persija Jakarta, Anang pun melakukan hal serupa.Posisi bek kiri yang menjadi spesialisasinya tak perlu diragukan lagi. Umpan-umpan terukurnya untuk Bambang Pamungkas membuat Anang selalu menjadi andalan Persija. Di final, Anang tetap tampil apik hingga mampu membawa Persija juara. Sama seperti Novri, Anang Ma'ruf juga bisa beroperasi di sisi kanan Persija. Di lini depan atau di belakang. Anang yang juga merupakan lulusan PSSI Primavera bergabung dengan Persija pada musim 1999 dan bertahan

Jadi Satu Bintang “Bambang Pamungkas”

Bambang Pamungkas atau biasa dipanggil Bepe adalah seorang penyerang sekaligus seorang juru masak.Bepe memperkuat Persija pada 3 periode. Periode pertama musim 1999 sampai musim 2005, di periode ini Bepe mempersembahkan gelar juara ligina untuk Persija pada musim 2001 dan juga sempat menjalani trial di klub Belanda EHC Norad.Di Periode ke dua, pada musim 2007-2013, setelah menjadi juara di Malaysia bersama Selangor FA, Bepe kembali ke Persija, tetapi kali ini tanpa memberikan satu pun gelar bergengsi. Di akhir periode ini Persija mengalami krisis finansial, membuat Persija dan Bepe harus berpisah kembali untuk sementara.Bepe kembali lagi ke Persija pada musim 2015, dan bertahan hingga pensiun di akhir musim 2019. Pada periode terakhir ini Bepe kembali mengantarkan Persija meraih gelar juara Ligina 2018,

Jadi Satu Bintang “SI NOMOR 10 YANG MEMBAWA GELAR KE 10”

Luciano Gomes Leandro, si nomor 10 yang punya banyak cerita di Indonesia. Pemain elegan yang menjadi juara Indonesia di usia yang sudah tidak muda lagi. Luci menjadi juara bersama Persija ketika usianya sudah lebih dari 30 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi untuk pemain sepakbola.Luci bertahan di Persija sampai dia pensiun sebagai pemain sepakbola, tepatnya pada tahun 2004. Di Persija, selain gelar juara Ligina, Luci juga memberikan gelar turnamen Piala Toyota di Brunei Darussalam.Selain kenangan manis, Luci juga memiliki kenangan pahit selama membela Persija. Saat bermain di liga, Luci pernah terkena lemparan pendukung lawan hingga wajahnya bengkak.Luci sangat mencintai Indonesia dan Persija. Bahkan untuk Luci, Indonesia dan Persija adalah kado Tuhan untuk dirinya.

Jadi Satu Bintang “BUDIMAN KAPTEN MACAN KEMAYORAN”

Budiman (tanpa Yunus), pemain yang sering kali tertukar dengan Budiman (Yunus) yang juga pernah memperkuat Persija pada era 80-an.Budiman yang akan dibahas sekarang ini adalah Budiman yang memperkuat Persija saat menjadi juara Ligina 2001. Budiman merupakan orang Bandung asli yang juga merupakan kapten Macan Kemayoran saat meraih gelar ke sepuluh pada tahun 2001.Sepanjang karirnya, Budiman berhasil meraih dua gelar juara Ligina, masing-masing saat bersama Bandung Raya pada musim 1996 dan yang kedua bersama Persija pada musim 2001. Saat bersama Persija Budiman juga berhasil memenangkan turnamen Piala Toyota di Brunei Darussalam.Budiman bersama Persija selama enam musim, terhitung sejak musim 1999 sampai musim 2004. Saat ini Budiman berkarir sebagai pelatih tim junior klub liga 1 lainnya.

Jadi Satu Bintang “Antônio Cláudio”

Antônio Cláudio de Jesus Oliveira alias Toyo alias Fakhruz Zaman, pensiunan pesepakbola asal Brazil yang merupakan salah satu pemain asing pertama di Indonesia.Toyo datang ke Indonesia pada tahun 1994 dan bermain untuk Semen Padang di Ligina pertama.Setelah di Semen Padang selama semusim, Toyo yg saat itu masih berusia 22 tahun pindah ke klub Padang lainnya, PSP yg bermain di divisi 1.Toyo di PSP selama 3 musim sampai musim 1999. Di musim 2000 Toyo pindah ke Persebaya dan hanya bertahan semusim.Di musim 2001, Toyo bergabung ke Persija. Di usia 28 tahun, yang masuk dalam kategori usia emas pesepakbola dia berhasil meraih juara Liga Indonesia 2001 bersama Persija.Tidak sampai disitu, pada tahun 2018 kala Persija kembali menjadi juara, ada peran Toyo ditim

Jadi Satu Bintang “Mbeng Jean”

Mbeng Jean Mambalou, kiper asing pertama Persija di era Liga Indonesia.Mbeng Jean datang ke Persija saat usianya baru 19 tahun, usia yang sangat muda untuk ukuran pemain asing di Indonesia. Apalagi posisinya kiper.Mbeng bergabung dengan Persija di Ligina IV yang tidak selesai karena krisis moneter di Indonesia saat itu.Di musim 2001, Mbeng Jean tampil luar biasa di bawah mistar gawang Persija. Tercatat kiper asal Kamerun ini berhasil menjadikan Persija tim yang paling sedikit kebobolan di fase reguler, dengan hanya kebobolan 18 gol dari 24 pertandingan.Sampai akhirnya Mbeng Jean berhasil memberikan Persija gelar juara yang sudah ditunggu lebih dari 2 dekade oleh publik Jakarta setelah mengalahkan PSM di Final Ligina VII dengan skor 3-2.

Jadi Satu bintang “Agus Supriyanto”

Jika di masa kini Persija punya Sandi Sute dan Tony Sucipto di posisi gelandang bertahan, di awal milenium Persija juga memiliki pemain yang tipenya sama seperti mereka berdua.Dia adalah Agus Supriyanto, gelandang kelahiran Slawi yang 5 tahun memperkuat Persija.Juara liga sampai juaraturnamen internasional pernah diraih pemain yang setelah pensiun bekerja di pemkot Bekasi ini.Selain menjadi bagian skuat juara, Agus Supriyanto juga bagian dari skuat 2005 yang serba hampir. Hampir juara liga, dan hampir juara copa.Kenangan manis dan pahit sudah dirasakan Agus Supriyanto selama membela Persija.

Jadi Satu Bintang “Nuralim”

Nuralim "Jabrik", anak Betawi asli yang karir professionalnya dimulai di Persipasi Bekasi.Jabrik datang ke Persija bukan sebagai pemain biasa, tapi sebagai juara Indonesia bersama Bandung Raya.Datang dengan status juara Indonesia tidak langsung memberikan efek instan untuk Persija.Gelar juara yang diidamkan publik Jakarta baru berhasil diraih 5 tahun kemudian.Salah satu hal unik dari Nuralim adalah kedekatannya dengan the Jakmania saat itu. Sampai-sampai Nuralim dibuatkan chants tersendiri oleh Jakmania.

Jadi Satu Bintang “Aris Indarto”

Aris Indarto adalah anggota skuat juara 2001 jebolan Diklat Ragunan. Mengawali karir professionalnya bersama PSB Bogor pada usia 18 tahun.Seiring performanya yang semakin baik, pemain yang sempat bermain bersama PSSI Baretti diboyong Persija di usia 22 tahun. Selama di Persija, Aris berhasil mempersembahkan gelar Juara Liga Tahun 2001, Brunei Invitational Cup Tahun 2000 dan 2001, Piala Bang Yos 2003.Aris Indarto juga pernah menjabat sebagai kapten Persija sejak tahun 2003 sampai tahun 2005.Di musim 2005, Aris hampir saja berhasil mempersembahkan 2 gelar bergengsi untuk Persija, tapi kandas di 2 final. Masing-masing dari Persipura dan Arema.

Jadi Satu Bintang “Joko Kuspito”

Joko Kuspito, arek Malang yang dari 20 tahun karir sepakbolanya tidak pernah memperkuat klub asal Malang. Sebagian besar karirnya dia habiskan bersama Persija Jakarta. Terhitung sejak tahun 1997 sampai tahun 2003, pemain jebolan Persema junior ini memperkuat Persija.Selama kurang lebih 7 tahun di Persija, Joko Kuspito memenangkan beberapa gelar bersama Persija. Di antaranya sudah pasti juara Ligina 2001, lalu Brunei Invitational Cup tahun 2000 dan 2001, dan yang terakhir Piala Bang Yos tahun 2003.