Om Hen Seorang Legenda yang Melahirkan Banyak Legenda

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke enam belas. Ketika itu Sugih Hendarto masih menjadi kepala SSB Persija, Ketua Umum Persija saat itu Todung B. Lumbanraja mengangkat Om Hen menjadi pelatih kepala Persija menggantikan pelatih sebelumnya Reni Salaki, dengan tugas berat karena pada liga tahun 1985 Persija berada pada ancaman degradasi. Tugas terselesaikan dengan membawa Persija keluar dari ancaman degradasi dan membawa kembali Persija sebagai tim besar yang berkualitas di tahun berikutnya. Di era liga tahun 1987/88 itulah Om Hen menjadikan Persija meraih kemenangan demi kemenangan tanpa kekalahan hingga melaju ke laga puncak namun di final akhirnya dikandaskan oleh Persebaya. Pelatih

Satu Bintang di Dada Tersemat Nama Sofyan Hadi

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke lima belas. Arsitek Persija di tahun 2001 yang sukses membawa Persija juara di Era Liga Indonesia hingga menjadikan Macan Kemayoran memiliki satu bintang diatas logonya yang menandakan genap 10 gelar juara liga didapatkan Persija. Tiga gelar juara pada tahun 1973, 1975 dan 1979 terdapat nama Sofyan Hadi yang menyumbangkan gelar ketika menjadi pemain di Persija. Pada tahun 1979 juga Sofyan Hadi dipercaya menjadi kapten tim. Bukan hanya gelar, tetapi Sofyan Hadi juga melahirkan legenda Persija dan Indonesia saat ini, Bambang Pamungkas muda saat itu diorbitkan oleh Beliau dan menjelma menjadi penyerang hebat kala itu hingga namanya

Peranakan

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke empat belas. Membicarakan komunitas Warga Jakarta, tidak lengkap kalau tidak membahas mengenai peranakan khususnya peranakan Tionghoa dan Arab. Begitu pula dengan Persija. Banyak pemain peranakan yang silih berganti memperkuat dan memberikan prestasi untuk Persija. Beberapa pemain dan pelatih peranakan Tionghoa yang pernah membela panji Merah-Putih seperti Chris Ong, Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw, Fam Tek Fong, Surya Lesmana (Liem Soei Liang), serta Pelatih Dr Endang Witarsa dan Sugih Hendarto. Terbaru, Persija pernah diperkuat Sutanto Tan di era 2010an. Sedangkan dari peranakan Arab memiliki beberapa pemain kunci seperti bek sayap Sutan Harhara yang menyumbangkan beberapa gelar

Sinyo “the Unbeaten” Aliandoe

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sebelas. Sinyo Aliandoe merupakan sosok spesial. Beliau menjadi sosok pertama yang berhasil menjadi juara baik sebagai pemain dan menjadi pelatih. Lebih spesialnya lagi, ketika menjadi juara pada tahun 1964 dan 1973, Persija menjadi juara dengan status tidak terkalahkan!Performa solid Sinyo Aliandoe di lini tengah mampu membuat Persija berhasil menyelesaikan Perserikatan 1964 dengan rekor 7 kemenangan dan satu hasil seri. Prestasi tersebut Beliau ulang lagi saat menjadi pelatih Persija Jakarta pada umur 33 tahun di tahun 1973. Racikan Sinyo berhasil membuat Persija kembali juara dengan status

Iswadi ‘Boncel’ Idris

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke tiga belas. Pemain kelahiran Aceh yang besar di Cikini ini memulai kiprah sepakbolanya di salah satu klub internal Persija Merdeka Boys Football Association atau lebih akrab dengan nama MBFA. Padahal cita cita Bang Is kecil adalah sebagai pelari cepat. Di usia 17 tahun, bermain apik sebagai gelandang membuat namanya terpromosi ke skuad utama Persija di tahun 1966. Sayang di debut karir profesionalnya, Persija hanya mampu menduduki peringkat 4 Perserikatan saat itu. Dua kali Bang Is membawa Persija merengkuh juara di tahun 1973 dan 1975. Jika saja di tahun 1978 menang melawan Persebaya, tentu 3 torehan piala

Medan – Jakarta Juara Bersama

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke dua belas. Gelar juara Persija ke 8 yang diraih tahun 1975 meinggalkan cerita unik yang mungkin sulit untuk diulang kembali di masa depan. Perserikatan tahun 1975 yang mempertemukan Persija dan PSMS di Senayan, tidak menghasilkan pemenang, dan bahkan pertandingannya dihentikan di menit ke 40 saat skor sedang imbang 1-1. Dihentikannya pertandingan tersebut disebabkan terjadinya kerusuhan antar pemain di atas lapangan, yang sampai membuat polisi harus turun tangan untuk melerainya. Ketua PSSI yang hadir saat itu, Bardosono, memutuskan untuk menghentikan pertandingan dan menetapkan Persija dan PSMS menjadi juara bersama Perserikatan tahun 1975 demi kepentingan nasional.

Gareng yang Lekat dengan Rekor Gol

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sepuluh. Membahas Tim Juara 1964 tidak akan lengkap tanpa membahas Soetjipto Soentoro atau Gareng. Kehebatannya mencetak gol sudah tidak diragukan lagi. Saat menjadi tim yang tidak terkalahkan pada Perserikatan 1964, Persija mampu menorehkan 34 gol dari delapan pertandingan, dimana 16 dari 34 gol tersebut dilesakkan oleh Gareng. Hal tersebut menandakan bahwa 47% gol Persija disumbangkan oleh Beliau. Fakta lainnya yakni, rata rata Gareng memasukkan 2 gol setiap pertandingan yang dijalaninya.Kehebatan Gareng tidak hanya sampai disitu saja. Rekor pencetak gol terbanyak Timnas Indonesia sampai saat

DOMINGGUS

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke sembilan. Walaupun Referendum Papua baru dilaksanakan pada tahun 1969, namun Persija Jakarta sudah diperkuat talenta dari Bumi Cendrawasih pada saat Perserikatan tahun 1964. Sosok tersebut adalah Dominggus Waweyai. Bakat Dominggus membuat pelatih Persija saat itu, Dr Endang Witarsa kepincut dan mengajaknya bergabung dengan Persija. Dominggus menjadi andalan di lini depan saat menjuarai Perserikatan pada tahun 1964

TIGA BELAS

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke delapan. Musim Juara 1954 menyimpan sebuah fakta unik. Pada musim tersebut, Persija Jakarta mencetak rekor kemenangan terbesar selama berpartisipasi dalam kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Dikutip melalui laman arsip sepakbola RSSSF.com, pertandingan antara Persija Jakarta melawan Persis Solo di Surabaya tersebut dimenangkan Persija dengan skor 13-0. Pietersen mencetak 6 gol pada saat itu, disusul oleh Hassan dengan 4 gol, lalu pemain andalan Persija kelahiran Yogyakarta, Djamiat Dalhar mencetak 2 gol, dan satu gol bunuh diri dicetak oleh pemain Persis Ping Tjiang.

Oranje di tubuh Merah-Putih

Menyambut Hari Ulang Tahun Persija Jakarta ke-92, Pengurus Pusat the Jakmania akan memberikan info-info mengenai sejarah Klub Kebanggaan kita loh! Penasaran? Nyok simak postingan kita yang ke enam. Di awal Masa Kemerdekaan, Jakarta masih didiami oleh banyak komunitas Eropa keturunan. Hal tersebut juga berlaku di Persija Jakarta. Tercatat beberapa nama pemain Indo-Belanda yang pernah membela panji Merah-Putih seperti Pietersen, Boellaard, Pesch, Joop de Freetes, hingga kiper kawakan Arnold van der Vin yang menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang saat Persija meraih gelar juara di tahun 1954