Jadi Satu Bintang “Widodo Cahyo Putro”

Pastinya kita the Jakmania tidak asing dengan sosok mantan pesepak bola bernama Widodo Cahyono Putro.  Sebelum menjadi pelatih seperti sekarang, Widodo Cahyono Putro dahulu merupakan pemain sepak bola yang pernah memperkuat timnas Indonesia dan beberapa tim di Liga Indonesia termasuk Persija Jakarta. Pada waktu itu widodo Cahyono Putro bermain untuk Persija Jakarta selama kurang lebih enam musim sejak kehadirannya di tahun 1998.  Widodo bergabung dengan Persija dengan status sebagai salah satu bintang Tim Nasional saat itu.Mas Wid mengawali karirnya di klub Galatama, Warna Agung. Bakatnya ditemukan oleh pelatih legendaris Persija yang saat itu sedang melatih Warna Agung, drg. Endang Witarsa alias Liem Soen Joe. Setelah Galatama dan Perserikatan disatukan, Mas Wid pindah ke Petrokimia Gresik pada edisi perdana Ligina.Empat tahun di Gresik,

Jadi Satu Bintang “Imran Nahumarury”

Tulehu sudah sejak lama dikenal sebagai tempat lahir banyak pesepakbola hebat Indonesia. Persija sudah beberapa kali mendapatkan jasa dari anak-anak Tulehu. Banyak pesepak bola Indonesia yang lahir dan berasal dari Tulehu, Maluku Tengah. Maka tak mengherankan jika Tulehu kemudian mendapat predikat "Kampung Sepak Bola". Jika sekarang ada Ramdani Lestaluhu, dulu Persija punya Imran Nahumarury, anak asli Tulehu yang jadi andalan Macan Kemayoran. Bagi penggemar klub sepak bola Persija Jakarta, tentu sudah tak asing lagi dengan sosok legendaris ini.  Namanya tentu mengingatkan kita akan sosok gelandang enerjik yang turut membawa Persija Jakarta menjuarai Liga Primer Indonesia di tahun 2001 laluLulusan PSSI Baretti tersebut karirnya sebagian besar dihabiskan di Persija. Tercatat Imran membela Persija selama 4 musim. Dari musim 2000 sampai musim 2004. Imran

Jadi Satu Bintang “Gendut Doni”

Gendut Doni Christiawan (Gendut memang nama asli beliau), adalah salah satu anggota tim Persija pada saat juara tahun 2001 yang beroperasi di lini depan bersama Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono dan yang lainnya. Gendut Doni adalah lulusan Diklat Salatiga, Diklat yang juga meluluskan Bambang Pamungkas dan Kurniawan Dwi Yulianto. Pencapaian itu terbilang wajar, karena ia memang lahir dan besar di Salatiga. Di kota ini, ada Diklat Salatiga yang pernah menjadi kawah candradimuka pemain tim nasional junior selain Diklat Ragunan. Sosok Gendut Doni mulai mencuat ketika ia membela tim pelajar Indonesia pada Asian Schools Championship di Malaysia 1996. Di ajang itu, selain membawa Indonesia meraih juara, Gendut Doni juga terpilih sebagai pemain terbaik. Setelah lulus dari Diklat Salatiga pada tahun 1998, Gendut bergabung dengan PSIS Semarang,

Jadi Satu Bintang “Anang Ma’ruf”

Di masa kini Persija punya Novri Setiawan yang bisa dimainkan di beberapa posisi, dulu Persija punya Anang Ma'ruf. Arek Suroboyo yang berhasil jadi juara Indonesia 3 kali. Bagi generasi 90an, nama Anang Ma’ruf menjadi jaminan sebuah tim untuk berprestasi. Mental juaranya diperlihatkan saat Anang membawa Persebaya Surabaya juara di tahun 1997. Bersama Persija Jakarta, Anang pun melakukan hal serupa.Posisi bek kiri yang menjadi spesialisasinya tak perlu diragukan lagi. Umpan-umpan terukurnya untuk Bambang Pamungkas membuat Anang selalu menjadi andalan Persija. Di final, Anang tetap tampil apik hingga mampu membawa Persija juara. Sama seperti Novri, Anang Ma'ruf juga bisa beroperasi di sisi kanan Persija. Di lini depan atau di belakang. Anang yang juga merupakan lulusan PSSI Primavera bergabung dengan Persija pada musim 1999 dan bertahan

Jadi Satu Bintang “Bambang Pamungkas”

Bambang Pamungkas atau biasa dipanggil Bepe adalah seorang penyerang sekaligus seorang juru masak.Bepe memperkuat Persija pada 3 periode. Periode pertama musim 1999 sampai musim 2005, di periode ini Bepe mempersembahkan gelar juara ligina untuk Persija pada musim 2001 dan juga sempat menjalani trial di klub Belanda EHC Norad.Di Periode ke dua, pada musim 2007-2013, setelah menjadi juara di Malaysia bersama Selangor FA, Bepe kembali ke Persija, tetapi kali ini tanpa memberikan satu pun gelar bergengsi. Di akhir periode ini Persija mengalami krisis finansial, membuat Persija dan Bepe harus berpisah kembali untuk sementara.Bepe kembali lagi ke Persija pada musim 2015, dan bertahan hingga pensiun di akhir musim 2019. Pada periode terakhir ini Bepe kembali mengantarkan Persija meraih gelar juara Ligina 2018,

Jadi Satu Bintang “SI NOMOR 10 YANG MEMBAWA GELAR KE 10”

Luciano Gomes Leandro, si nomor 10 yang punya banyak cerita di Indonesia. Pemain elegan yang menjadi juara Indonesia di usia yang sudah tidak muda lagi. Luci menjadi juara bersama Persija ketika usianya sudah lebih dari 30 tahun, usia yang sudah tidak muda lagi untuk pemain sepakbola.Luci bertahan di Persija sampai dia pensiun sebagai pemain sepakbola, tepatnya pada tahun 2004. Di Persija, selain gelar juara Ligina, Luci juga memberikan gelar turnamen Piala Toyota di Brunei Darussalam.Selain kenangan manis, Luci juga memiliki kenangan pahit selama membela Persija. Saat bermain di liga, Luci pernah terkena lemparan pendukung lawan hingga wajahnya bengkak.Luci sangat mencintai Indonesia dan Persija. Bahkan untuk Luci, Indonesia dan Persija adalah kado Tuhan untuk dirinya.

Jadi Satu Bintang “BUDIMAN KAPTEN MACAN KEMAYORAN”

Budiman (tanpa Yunus), pemain yang sering kali tertukar dengan Budiman (Yunus) yang juga pernah memperkuat Persija pada era 80-an.Budiman yang akan dibahas sekarang ini adalah Budiman yang memperkuat Persija saat menjadi juara Ligina 2001. Budiman merupakan orang Bandung asli yang juga merupakan kapten Macan Kemayoran saat meraih gelar ke sepuluh pada tahun 2001.Sepanjang karirnya, Budiman berhasil meraih dua gelar juara Ligina, masing-masing saat bersama Bandung Raya pada musim 1996 dan yang kedua bersama Persija pada musim 2001. Saat bersama Persija Budiman juga berhasil memenangkan turnamen Piala Toyota di Brunei Darussalam.Budiman bersama Persija selama enam musim, terhitung sejak musim 1999 sampai musim 2004. Saat ini Budiman berkarir sebagai pelatih tim junior klub liga 1 lainnya.

Jadi Satu Bintang “Antônio Cláudio”

Antônio Cláudio de Jesus Oliveira alias Toyo alias Fakhruz Zaman, pensiunan pesepakbola asal Brazil yang merupakan salah satu pemain asing pertama di Indonesia.Toyo datang ke Indonesia pada tahun 1994 dan bermain untuk Semen Padang di Ligina pertama.Setelah di Semen Padang selama semusim, Toyo yg saat itu masih berusia 22 tahun pindah ke klub Padang lainnya, PSP yg bermain di divisi 1.Toyo di PSP selama 3 musim sampai musim 1999. Di musim 2000 Toyo pindah ke Persebaya dan hanya bertahan semusim.Di musim 2001, Toyo bergabung ke Persija. Di usia 28 tahun, yang masuk dalam kategori usia emas pesepakbola dia berhasil meraih juara Liga Indonesia 2001 bersama Persija.Tidak sampai disitu, pada tahun 2018 kala Persija kembali menjadi juara, ada peran Toyo ditim

Jadi Satu Bintang “Mbeng Jean”

Mbeng Jean Mambalou, kiper asing pertama Persija di era Liga Indonesia.Mbeng Jean datang ke Persija saat usianya baru 19 tahun, usia yang sangat muda untuk ukuran pemain asing di Indonesia. Apalagi posisinya kiper.Mbeng bergabung dengan Persija di Ligina IV yang tidak selesai karena krisis moneter di Indonesia saat itu.Di musim 2001, Mbeng Jean tampil luar biasa di bawah mistar gawang Persija. Tercatat kiper asal Kamerun ini berhasil menjadikan Persija tim yang paling sedikit kebobolan di fase reguler, dengan hanya kebobolan 18 gol dari 24 pertandingan.Sampai akhirnya Mbeng Jean berhasil memberikan Persija gelar juara yang sudah ditunggu lebih dari 2 dekade oleh publik Jakarta setelah mengalahkan PSM di Final Ligina VII dengan skor 3-2.

Jadi Satu bintang “Agus Supriyanto”

Jika di masa kini Persija punya Sandi Sute dan Tony Sucipto di posisi gelandang bertahan, di awal milenium Persija juga memiliki pemain yang tipenya sama seperti mereka berdua.Dia adalah Agus Supriyanto, gelandang kelahiran Slawi yang 5 tahun memperkuat Persija.Juara liga sampai juaraturnamen internasional pernah diraih pemain yang setelah pensiun bekerja di pemkot Bekasi ini.Selain menjadi bagian skuat juara, Agus Supriyanto juga bagian dari skuat 2005 yang serba hampir. Hampir juara liga, dan hampir juara copa.Kenangan manis dan pahit sudah dirasakan Agus Supriyanto selama membela Persija.